Cari Gereja Berdasarkan
No data available
Bab II PERWUJUDAN FUNGSI GEREJA - Gereja Kristen Protestan Indonesia


1.    Pengertian
    GKPI sebagai bagian dari gereja yang esa, kudus, am dan rasuli mengemban tiga fungsi utama (disebut juga Tri-Tugas) Gereja, yakni Apostolat (Marturia; pengutusan; kesaksian), Pastorat (Koinonia; pembinaan persekutuan dan penggembalaan) dan Diakonat (pelayanan kasih dan pengembangan masyarakat).

    Pelaksanaan ketiga fungsi utama gereja itu bertujuan membina, membangun, dan meningkatkan kualitas kehidupan rohani warga GKPI dan umat manusia yang seutuhnya, agar mencapai "kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef. 4:13).

    Ketiga fungsi utama Gereja itu mutlak saling berkait dan tak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Ketiganya hanya dapat dibedakan menurut bentuk dan titik berat pelaksanaannya, sesuai dengan kondisi dan urgensinya. Karena itu ketiga fungsi utama gereja  harus dilaksanakan secara saling mendukung, sambil memperhatikan jangan terjadi tumpang-tindih.

    Pembentukan dan pemantapan lembaga-lembaga pelayanan gereja, serta pembenahan organisasi, personalia dan administrasi; demikian juga pengadaan dan pengelolaan dana, sarana dan prasarana; merupakan pendukung bagi pembinaan, pembangunan dan peningkatan kualitas kerohanian tersebut di atas. Sehingga tingkat kemajuan GKPI dalam mengemban tugas dan  panggilannya tidak mengutamakan keberhasilannya di bidang-bidang yang bersifat mendukung itu, melainkan pada keberhasilannya membina, membangun dan meningkatkan kualitas kerohanian manusia, dengan meneladani Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat dunia dan Gembala Yang Baik itu.

2.    Bidang Apostolat (Marturia; Pengutusan; Kesaksian)
Bidang Apostolat mencakup penyelenggaraan Ibadah (Kebaktian), pemberitaan Firman Tuhan, pelayanan Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), pekabaran Injil (evangelisasi), dalam rangka mewujudkan gereja yang beribadah hanya kepada Allah TRITUNGGAL, dan menjadi gereja yang misioner di dunia.

2.1.    Ibadah (Kebaktian)
2.1.1.    Sesuai dengan tema dan sub-tema SAP XVIII GKPI tahun 2010, dalam kurun waktu 2010-2015 mendatang semua bentuk peribadahan GKPI, terselenggara yang  berpusat dan berpumpun (berfokus) pada kesadaran untuk “menampakkan kebaikan Tuhan kepada semua orang”. Ibadah itu juga mendorong seluruh warga dan pelayan GKPI untuk terus menerus membarui diri, tekad dan kesetiaannya menaati Tuhan, sebagai sambutan atas kebaikan-Nya.

2.1.2.    Sesuai dengan ajaran bapa-bapa reformasi, semua ibadah di lingkungan gereja protestan berpusat pada pemberitaan Firman. Karena itu pada setiap peribadahan GKPI, yang bersifat formal dan umum  maupun non-formal dan khusus (termasuk ibadah rumah tangga), pemberitaan Firman harus menempati kedudukan sentral, tanpa mengabaikan dan tanpa mengurangi nilai unsur-unsur ibadah lainnya.
2.1.3.    Penyelanggaraan peribadahan tidak hanya pada hari Minggu,  tetapi dapat juga diselenggarakan pada hari-hari lain, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing unit dan kategori persekutuan, mulai dari tinggkat Jemaat hingga Pusat, dari kategori Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, Kaum Perempuan, Kaum  Pria, hingga Lanjut Usia (bnd. 1 Tim. 4:7-8).

2.1.4.    Pelaksanaan peribadahan bukanlah sekedar kegiatan rutin yang bersifat monoton dan statis, melainkan harus disadari sebagai kebutuhan rohani dan jiwa, yang menggugah dan memberi kesegaran iman, menciptakan suasana persekutuan dengan Tuhan dan dengan sesama umat beriman, serta memberikan sukacita yang mendorong pengucapsyukuran kepada Allah (bnd. Mzm. 100:2).

2.1.5.    Penyelenggaraan peribadahan harus berlangsung khidmat dan tertib, sehingga perlu ada tata ibadah (liturgi) yang seragam dan baku untuk beberapa jenis ibadah utama, tanpa menghilangkan sifat dinamis, kreatip dan partisipasi aktif peserta ibadah. Untuk Ibadah Minggu khususnya dapat mempergunakan  beberapa versi Tata Ibadah yang telah ada, yang mengacu kepada Kalender Gerejawi maupun peribadahan yang bertema khusus pada bulan atau minggu tertentu.

2.1.6.    NYANYIAN dan MUSIK GEREJANI adalah  unsur yang sama pentingnya dengan pemberitaan Firman dalam ibadah. Sesuai dengan pengertian tersebut GKPI akan terus menerus menggali dan mengembangkan nyanyian dan musik gereja  yang berasal dari kekayaan rohani dan budaya bangsa Indonesia, baik nyanyian dan musik untuk jemaat umum maupun untuk kelompok vokal dan paduan suara, mulai dari tingkat anak-anak hingga dewasa. Maksud tersebut  akan diupayakan secara sendiri maupun bersama dengan gereja atau badan-badan gerejawi lainnya, misalnya: Yayasan Musik Gerejawi Indonesia (Yamuger)  dalam hal pengadaan nyanyian dan alat musik maupun dalam hal pembinaan para penggubah lagu dan pemusik gereja. Sehubungan dengan itu, untuk kebaktian berbahasa Indonesia, GKPI menggunakan buku-buku nyanyian terbitan Yamuger a.l.: Kidung Jemaat, Pelengkap Kidung Jemaat, Nyanyian Rohani, dll.

2.1.7.    Almanak GKPI adalah sarana pendukung peribadahan. Pada susunan kebaktian/peribadahan Hari Minggu dan Hari Besar Kristiani, agar dilengkapi dengan nomor Buku Ende, Kidung Jemaat dan Buku Nyanyian lain terbitan Yamuger. Karena GKPI ikut di dalam kebersamaan dengan gereja-gereja yang tergabung di dalam UEM, maka juga tema-tema khotbah dan minggu disesuaikan dengan UEM.

2.1.8.    Ibadah yang khidmat, tertib dan teratur perlu didukung sarana rumah ibadah yang layak dan memadai, dengan pola arsitektur yang khas gerejawi dan dilengkapi dengan peralatan ibadah yang cukup. Untuk itu akan diadakan kerjasama dan saling membantu antar jemaat dan resort.

2.1.9.    Untuk membenahi dan menertibkan segala sesuatu yang menyangkut ibadah formal dari perspektif teologis dan estetis, termasuk tata peribadahan, arsitektur rumah ibadah (tata ruang) dan peralatannya, akan selalu diupayakan Lokakarya Ibadah (yang belum sempat terlaksana seluruhnya pada periode yang lalu).

2.2.    Pemberitaan Firman Tuhan
2.2.1.    Kemurnian pemberitaan Firman Tuhan harus tetap dijaga, yakni bersumber dari Alkitab, sesuai dengan semboyan Reformasi: sola scriptura (hanya Alkitab sumber ajaran yang benar). Pemberitaan Firman Tuhan dan kesaksian atas perbuatan kasih dan karya keselamatan  Allah adalah hal yang terpenting dan terutama, bukan perbuatan si pemberita ataupun orang lain.

2.2.2.    Pemberitaan Firman Tuhan dilakukan secara lisan: melalui khotbah di dalam ibadah umum, pembacaan Alkitab dan renungan singkat di dalam ibadah khusus (termasuk ibadah rumah tangga), kumpulan Penelaahan Alkitab, siaran radio dan televisi, dan percakapan sehari-hari.

2.2.3.    Pemberitaan Firman Tuhan  dapat  juga dilakukan melalui tulisan: di dalam dan melalui buku, Suara GKPI, majalah/warta jemaat, suratkabar, dan surat-surat penggembalaan. Untuk itu di setiap jemaat perlu diupayakan perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan yang berisi pemberitaan Firman Tuhan. Sehubungan dengan itu perlu diadakan latihan menyajikan pemberitaan Firman Tuhan secara tertulis.

2.2.4.    Setiap warga dan pelayan GKPI terpanggil untuk memberitakan Firman Tuhan. Untuk melaksanakan panggilan tersebut dibutuhkan waktu persiapan, pembekalan dan pelatihan, agar setiap pemberita Firman Tuhan sungguh-sungguh memahami dan mendalami Firman Tuhan yang akan disajikan/dikhotbahkan. Untuk itu di setiap jemaat dan/atau resort, di samping ibadah dan pembinaan yang bersifat umum maupun kategorial, perlu diselenggarakan kegiatan dan kelompok pemahaman/penelaahan Alkitab serta latihan memberitakan Firman. Sehubungan dengan itu perlu memotivasi setiap warga jemaat memiliki Alkitab dan membacanya dengan teratur.

2.2.5.    Pemberitaan Firman Tuhan pada ibadah umum adalah mereka yang sudah mendapat pendidikan dan pelatihan yang khusus untuk itu, melalui pendidikan teologi formal, maupun kursus Alkitab dan latihan berkhotbah yang bersifat non-formal. Juga diupayakan agar pemberita Firman adalah pelayan yang sudah mendapat tahbisan khusus (lihat butir 3.1.3).

2.2.6.    Bagi Pemberita Firman Tuhan agar mengupayakan bekal pendalaman Firman Tuhan dari nara sumber yang dimiliki dan literatur yang disediakan oleh GKPI, atau oleh gereja-gereja yang seasas dengan GKPI, agar mereka yang terpanggil memberitakan Firman Tuhan terhindar dari ajaran sesat, misalnya: modernisme/liberalisme, fundamentalisme/biblisme dan bibliolatri (pendewaan dan pemujaan terhadap Alkitab), maupun berbagai aliran/ajaran yang tidak bersumber dari Alkitab.

2.3.    Pelayanan Sakramen
2.3.1    Pelayanan Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus di GKPI dilaksanakan berlandaskan dan berpedoman pada hal-hal yang disebut pada Bab I.2.
2.3.2    Tentang akta Baptisan Kudus; setiap pelayan GKPI hendaknya mendorong warga jemaat membawa anak-anak menerima baptisan kudus sebagai tanda iman mereka menyerahkan anak-anak tersebut  kepada Tuhan  sedini mungkin. Pelayanan penggembalaan khusus baptisan kudus  perlu diadakan bagi warga jemaat, agar warga jemaat tidak  jatuh pada pemahaman yang keliru, misalnya menerima baptisan-ulang ataupun 'baptisan Roh,' ataupun terlalu terikat pada ketentuan-ketentuan adat. Mengenai siapa yang berhak melayankan baptisan, diatur dalam TP-GKPI.

2.3.3    Tentang  frekuensi  Perjamuan Kudus, selain di sekitar hari Jum'at Agung dan Hari Natal, jemaat-jemaat dapat menyelenggarakan Perjamuan Kudus sesering mungkin, misalnya pada hari ulang tahun jemaat, hari Perjamuan Kudus sedunia (setiap awal Oktober), dsb. Mengenai siapa yang layak mengikuti ataupun melayankan Perjamuan Kudus, diatur dalam TP-GKPI.

2.4.    Pekabaran Injil (Evangelisasi)
2.4.1.    Pekabaran Injil (evangelisasi) adalah istilah khusus bagi pemberitaan Firman Tuhan, yang berisi kabar keselamatan dan panggilan untuk bertobat, ke luar lingkungan gereja, yakni kepada orang-orang yang belum mendengar dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dengan demikian pekabaran Injil tidak ditujukan kepada mereka yang sudah Kristen/warga gereja. Bagi warga gereja yang dilakukan adalah pengajaran dan pembinaan iman dalam rangka peningkatan kualitas dan pembinaan persekutuan.

2.4.2.    Pekabaran Injil pada hakikatnya adalah tugas semua orang percaya, yakni seluruh warga dan pelayan Gereja, termasuk GKPI. Karena itu di setiap jemaat dan resort sangat perlu diadakan pembinaan warga dan pelayan untuk memampukan mereka menjadi pekabar Injil di lingkungan kerja dan tempat tinggal masing-masing. Dengan demikian tugas dan peranan jemaat dan warga jemaat bukan sekedar mengumpulkan dana untuk mendukung program pekabaran Injil di tingkat Pusat GKPI ataupun kegiatan pekabaran Injil yang dilakukan para penginjil (evangelis).

2.4.3.    Di samping pekabaran Injil oleh seluruh warga dan pelayan jemaat, untuk melaksanakan tugas ini secara penuh waktu di lingkungan masyarakat yang belum mengenal dan menerima Injil Yesus Kristus, maka dipersiapkan, ditahbiskan dan diangkatlah sejumlah evangelis, yang ditempatkan di pos-pos pekabaran Injil. Jemaat-jemaat yang sudah mandiri diminta secara langsung mendukung pekabaran Injil di pos-pos pekabaran Injil tertentu, dengan menyediakan tenaga penginjil dan/atau fasilitas pendukung pekerjaan itu.

2.4.4.    Pekabaran Injil secara verbal (dengan kata-kata, lisan maupun tertulis) perlu didukung dengan pelayanan kasih secara nyata, berupa pelayanan kesehatan, pendidikan, pertanian/peternakan dan bantuan-bantuan kemanusiaan lainnya. Tetapi sarana-sarana pendukung itu bukan menjadi tujuan, dan pekabaran Injil tidak dilakukan dengan menjanjikan hadiah untuk menarik hati mereka yang diinjili agar masuk Kristen.

2.4.5.    Pekabaran Injil dilakukan dengan tetap menghormati umat beragama lain dan dalam semangat kerukunan, terutama kerukunan antar umat yang berbeda agama. Dengan demikian tujuan pekabaran Injil bukan kristenisasi, melainkan pewartaan Kabar Baik, berita keselamatan dan hidup baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dalam kaitannya dengan tema periode ini, maka dialog iman berbagai aras supaya diusahakan.

2.4.6.    Untuk membangkitkan kesadaran dan minat warga jemaat untuk mendukung dan ikut dalam kegiatan pekabaran Injil, pada bulan atau minggu-minggu tertentu setelah hari raya Pentakosta diadakan Bulan atau Minggu Pekabaran Injil, yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang memperlihatkan pentingnya Pekabaran Injil pada masa kini. Kegiatan ini dapat dilakukan bekerjasama dengan lembaga penginjilan yang seasas dengan GKPI.

3.    Bidang Pastorat (Koinonia, Pembinaan Persekutuan dan Penggembalaan)
Bidang Pastorat (Koinonia, Pembinaan Persekutuan dan Penggembalaan) mencakup pembinaan pelayan gereja, pembinaan warga gereja, penggembalaan dan penegakan ajaran yang benar, dalam rangka memantapkan persekutuan di tengah-tengah kehidupan bergereja.

3.1.    Pembinaan Pelayan Gereja
3.1.1.    Pembinaan Pelayan Gereja di GKPI bertujuan menghasilkan jajaran pelayan yang berkualitas, dalam hal pengetahuan, kecakapan, dan terutama pengabdian kepada Tuhan dan Gereja-Nya, sehingga mampu mendampingi dan menggembalakan warga jemaat di tengah-tengah keadaan zaman yang terus berubah dengan semakin cepat, serta di tengah kehidupan yang penuh dengan kemelut dan permasalahan.

3.1.2.    Pelayan Gereja di GKPI terdiri dari:
a.    pelayan yang mendapat tahbisan khusus, yaitu: pendeta, guru jemaat, evangelis (penginjil pria), bijbelvrouw (penginjil wanita), diakones dan penatua;
b.    pelayan yang dipilih dan diangkat berdasarkan talenta dan kerelaan mengambil bagian dalam pelayanan, antara lain: guru Sekolah Minggu, pelatih Paduan Suara/Kelompok Vocal, dan pelatih atau pelayan bidang-bidang kegiatan khusus lainnya;
c.    pelayan yang diangkat secara periodik berdasarkan tugas pelayanan dan jabatan yang bersifat organisatoris-struktural, di tingkat Jemaat hingga Pusat.

3.1.3.    Pembinaan bagi para pelayan GKPI berlangsung di semua aras. Khusus untuk kategori a dan b, pembinaan dimulai dengan persiapan dan pembekalan melalui pendidikan formal ataupun non-formal, disusul dengan pembinaan lanjutan secara berkala menurut kategori dan kebutuhannya. Di dalamnya termasuklah penyediaan sarana pendukung pelayanan, a.l. buku, perpustakaan, dan peningkatan kecakapan melayani.

3.1.3.1    Pendeta
a.    Persiapan dan pembekalan calon pendeta dilakukan dengan cara merekomendasi dan mengutus warga jemaat yang berbakat dan terpanggil, untuk menjalani studi di Perguruan Tinggi Teologi yang diakui GKPI. Rekomendasi diberikan Pimpinan Pusat GKPI berdasarkan surat pengantar dari Guru Jemaat dan Pendeta Resort ybs., sedangkan daftar Perguruan Tinggi Teologi yang diakui GKPI ditetapkan oleh Rapat Pendeta dengan persetujuan MP GKPI.
b.    Pemberian rekomendasi dan pengutusan studi dilakukan dengan mempedomani proyeksi kebutuhan pendeta GKPI pada periode berikutnya, yakni tahun 2015-2020, agar jangan sampai terjadi surplus persediaan tenaga, yang dapat menimbulkan pengangguran. Proyeksi kebutuhan tersebut disusun Pimpinan Pusat bersama Majelis Pusat GKPI, setelah menerima masukan dari Rapat Pendeta GKPI.

c.    Setelah selesai studi, para calon pendeta GKPI menempuh masa vikariat selama 3 (tiga) tahun sebelum ditahbiskan, di tempat yang berbeda setiap tahun, yaitu di desa, kota dan lembaga.  Penahbisan dilaksanakan dengan memperhatikan catatan dan rekomendasi para pendeta pembimbing (mentor) di setiap tempat pelayanan vikaris yang bersangkutan.

d.    Para pendeta mendapat pembinaan lanjutan, baik yang bersifat umum melalui Program Pembinaan ataupun Rapat Tahunan Pendeta, maupun yang bersifat individual melalui program studi lanjutan (pascasarjana) ataupun kursus-kursus, di dalam dan diluar negeri, sesuai dengan peluang dan fasilitas yang tersedia dan berdasarkan surat penugasan ataupun rekomendasi dari Pimpinan Pusat GKPI.

e.    Untuk kebutuhan pembinaan/pendidikan calon pendeta dan pendeta, GKPI mengupayakan beasiswa yang digalang dari dalam (Jemaat, Resort, wilayah, Pusat) dan luar negeri, direkomendasikan oleh Komisi Beasiswa GKPI.

f.    Sejalan dengan prinsip kesetaraan gender, pendeta wanita berhak melaksanakan peran kependetaan dan mendapat peluang yang sama dengan pendeta pria. Bagi jemaat dan resort yang masih mem-permasalahkannya, perlu diberi penjelasan tentang kesetaraan ini.

3.1.3.2    Guru Jemaat
a.    Persiapan dan pembekalan untuk tahbisan dan jabatan guru jemaat tidak akan diadakan lagi, sesuai dengan rencana GKPI untuk mengembangkan pola pelayanan pendeta-jemaat secara bertahap. Dalam kerangka rencana itu, jemaat-jemaat yang tidak dilayani dan dipimpin langsung oleh pendeta, akan dilayani dan dipimpin oleh Guru Jemaat yang dipilih dari antara penatua di jemaat itu.


3.1.3.3    Evangelis, Bijbelvrouw dan Diakones
a.    Persiapan, pembekalan, penahbisan dan pengadaan Evangelis, Bijbelvrouw dan Diakon/es dilakukan menurut kebutuhan di lapangan pekabaran Injil (bnd. butir 2.4.3), di jemaat-jemaat, dan di lembaga-lembaga pelayanan sosial/diakonat (termasuk Badan Pengembangan Masyarakat/Pengmas; bnd. butir 4 Diakonat di bawah).

b.    Pembinaan lanjutan kepada masing-masing dilakukan secara berkala, sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan fasilitas.
3.1.3.4.    Penatua
a.    Persiapan, pembekalan, penahbisan dan pengadaan Penatua disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing jemaat dan dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku di GKPI.

b.    Persiapan dan pembekalan diadakan selama 2 tahun dalam bentuk kursus reguler (kursus pembinaan calon penatua), sermon yang dipimpin pendeta jemaat/resort setempat, dan latihan/praktek di jemaat masing-masing. Bahan pembinaan disediakan oleh Urusan Pembinaan di Kantor Pusat dan dapat ditambah oleh jemaat/resort setempat.

c.    Pembinaan lanjutan diadakan melalui 'sermon' (persiapan pelayanan) di tingkat jemaat dan resort maupun melalui program pembinaan lainnya yang diatur jemaat/resort setempat, dan bila perlu, bekerjasama dengan jemaat/resort lain sewilayah, dengan Urusan Pembinaan di Kantor Pusat, atau dengan gereja-gereja lain yang seasas.

d.    Masa bakti Penatua berlangsung maksimal hingga usia 65 tahun. Dalam hal penatua tidak melaksanakan tugasnya, yang bersangkutan dikenakan sanksi dan digembalakan menurut ketentuan yang digariskan dalam TP-GKPI.

e.    Di jemaat-jemaat yang mengalami kesulitan mencari tenaga penatua dan yang menghendaki penetapan jabatan penatua secara periodik, hal itu dapat dipertimbangkan, tanpa mengubah ketentuan yang digariskan pada butir di atas.
    
3.1.3.5.    Guru Sekolah Minggu [dan Remaja]
a.    Persiapan, pembekalan dan pengadaan Guru Sekolah Minggu dilakukan masing-masing jemaat sesuai dengan kebutuhan, dan dapat bekerjasama dengan jemaat-jemaat lain seresort, ataupun dengan gereja-gereja lain yang seasas.

b.    Pembinaan Lanjutan bagi Guru-guru Sekolah Minggu diadakan secara rutin dan berkala dalam bentuk 'sermon' (persiapan mengajar), kursus penyegaran (re-freshing course), retret (retreat), dan kegiatan-kegiatan pembinaan lainnya yang sesuai dengan ajaran GKPI.
c.    Mengingat berat dan pentingnya tugas Guru Sekolah Minggu, hendaknya semua jemaat menyediakan fasilitas mengajar dan penghargaan yang sewajarnya, sesuai dengan kemampuan jemaat.
3.1.3.6    Pelatih Paduan Suara, Musik dan Jenis Kegiatan Lainnya
a.    Setiap jemaat hendaknya memantau potensi dan talenta yang ada di kalangan warganya di bidang seni suara (paduan suara, kelompok vokal, nyanyian tunggal dsb), seni musik, seni drama/teater, seni tari, seni lukis, tulis-menulis, dsb., dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi dan talenta tersebut, agar mereka dapat menjadi pemimpin/pelatih di bidang ybs. di jemaat masing-masing.

b.    Program pembinaan dalam rangka pengembangan potensi dan talenta itu dilakukan di dalam jemaat, atau bekerjasama dalam satu resort dan/atau wilayah, bahkan dengan gereja-gereja lain yang seasas. Urusan Pembinaan di Kantor Pusat ikut membantu dalam hal pengadaan bahan pembinaan ataupun penyelenggaraan program pelatihan.

3.2.    Pembinaan Warga Gereja
3.2.1    Pembinaan Warga Gereja bertujuan menolong warga gereja bertumbuh dalam iman kristiani, dan menjembatani kesenjangan antara kehidupan keagamaan yang bersifat ritual-seremonial dengan kenyataan hidup konkret, sehingga mereka mampu mengait-eratkan iman itu dengan kehidupan dan kegiatan/pekerjaan sehari-hari, dan dengan demikian mampu menjawab berbagai masalah dan tantangan yang berkaitan dengan iman dan tugas-panggilan mereka sebagai orang Kristen/warga Gereja.

3.2.2    Warga GKPI adalah mereka yang sudah dibaptis dan terdaftar di salah satu jemaat GKPI. Mereka terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa dan lanjut usia, sehingga pembinaan terhadap mereka hendaknya juga memperhatikan jenjang dan golongan umur, begitu juga faktor-faktor khusus yang membedakan mereka (jenis kelamin, jenis pekerjaan, dsb.).

3.2.3    Dengan demikian kegiatan dan program Pembinaan Warga Gereja ada yang bersifat umum (melibatkan semua warga gereja dari segala jenis dan golongan, dalam rangka mewujudkan "keluarga Allah"; bnd. Ef. 2:19) dan ada yang bersifat khusus (diselenggarakan secara kategorial ataupun individual, menurut golongan umur ataupun jenis pekerjaan/profesi).

3.2.4    Pembinaan Warga Gereja yang bersifat Umum antara lain:
a.    Kebaktian Keluarga,  yakni kebaktian yang diselenggarakan tiap-tiap keluarga (rumahtangga) di rumah masing-masing, seboleh-bolehnya setiap hari, pada waktu yang disepakati masing-masing keluarga. Tata ibadah disusun dengan sangat sederhana dan tidak formal. Bahannya diambil dari Almanak GKPI (bnd. butir 2.1.7. di atas), dilengkapi dengan bahan-bahan yang disiapkan Kolportase GKPI ataupun badan-badan penerbit Kristen yang seasas dengan GKPI.

b.    Kebaktian Lingkungan, yakni kebaktian yang diadakan di suatu lingkungan pemukiman yang merupakan bagian/sektor/wilayah pelayanan sebuah jemaat dan terdiri dari beberapa keluarga. Diselenggarakan seboleh-bolehnya sekali seminggu pada hari yang disepakati warga jemaat di lingkungan itu, dan dilayani oleh para pelayan jemaat, seboleh-bolehnya yang sudah ditahbiskan. Bahannya diambil dari Almanak GKPI, dan seboleh-bolehnya penyajiannya sudah dipersiapkan melalui 'sermon' jemaat. Tata ibadah didasarkan pada Agenda GKPI, namun diusahakan agar tidak terlalu formal, serta membuka kesempatan untuk Penelaahan Alkitab dan diskusi.

c.    Bulan atau Pekan Keluarga: diadakan sekali setahun di masing-masing jemaat, dapat di sekitar Hari Ulang Tahun (HUT) Jemaat ataupun HUT GKPI, ataupun pada salah satu bulan/minggu pada minggu-minggu sesudah Trinitatis (bnd. butir 2.1.7 di atas). Acaranya disusun oleh masing-masing jemaat, sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya,  misalnya: Ceramah dan Diskusi tentang Kesehatan atau Masalah-masalah Keluarga, Festival Nyanyian/Kelompok Vokal Keluarga, Kuis Alkitab, Lomba Memasak makanan bergizi, Lomba Kebersihan Rumah dan Kelestarian Lingkungan, dsb. Setiap mata acara hendaknya melibatkan semua anggota keluarga. Pada bulan/pekan keluarga ini khotbah dan Penelaahan Alkitab mengambil tema "kehidupan keluarga Kristen."

3.2.5.    Pembinaan Warga Gereja yang bersifat Khusus/Kategorial a.l. adalah:
3.2.5.1.    Sekolah Minggu
a.    Diadakan bagi anak-anak  berusia s/d 12 tahun (usia TK s/d SD) dan dibagi dalam beberapa kelas menurut jenjang usia anak-anak, di bawah asuhan guru-guru Sekolah Minggu yang sudah dibekali dengan baik (bnd. butir 3.1.3.5 di atas).

b.    Acara dan kegiatannya mencakup unsur kebaktian/pemujaan kepada Tuhan, pengajaran Kristen dan rekreasi/permainan yang mendidik. Penyelenggaraannya didasarkan pada Buku Pedoman Sekolah Minggu yang disediakan Urusan Sekolah Minggu di Kantor Pusat GKPI, dan dapat dilengkapi dengan Buku Pedoman Sekolah Minggu yang diterbitkan oleh PGI, maupun bahan-bahan lain (alat peraga, dsb.) yang disiapkan oleh badan-badan Kristen yang seasas dengan GKPI.

c.    Anak-anak kelas besar mulai dilatih ambil bagian dalam pelayanan/ penyelenggaraan acara.

d.    Hendaknya Majelis Jemaat memberi perhatian yang sungguh-sungguh kepada Sekolah Minggu sebagai basis pembinaan warga gereja, antara lain agar tercegah masuknya ajaran dan tata cara yang berasal dari gereja-gereja yang ajarannya tidak seasas dengan GKPI.

e.    Dalam rangka koordinasi kegiatan dan pembinaan pada aras yang lebih luas, pada aras resort dibentuk Koordinator Seksi Sekolah Minggu, dan di Pusat dibentuk Urusan Sekolah Minggu [dan Remaja].

3.2.5.2    Remaja
a.    Diadakan bagi anak-anak berusia sekitar 12-15 tahun (usia SMP) dan diasuh oleh Guru Sekolah Minggu yang mengkhususkan diri bagi Remaja.
b.    Kegiatan peribadahannya diadakan terpisah dari kebaktian Sekolah Minggu maupun Kebaktian Dewasa, dan melalui itu mereka dipersiapkan mengikuti Kebaktian Minggu Umum (Dewasa), sambil tetap diberi perhatian pada aspek pengajaran Kristen dan rekreasi, sesuai dengan perkembangan jiwa mereka.

c.    Para remaja dilibatkan dalam memimpin dan melayani acara sesuai dengan kemampuan mereka.

d.    Sama seperti pada Sekolah Minggu, hendaknya Majelis Jemaat benar-benar memberi perhatian kepada Remaja, antara lain agar mereka mulai disiapkan menjadi warga gereja yang dewasa, dan agar tercegah masuknya ajaran dan tata cara yang berasal dari gereja-gereja yang ajarannya tidak seasas dengan GKPI.

3.2.5.3    Katekisasi Sidi
a.    Diadakan selama 1-2 tahun bagi anak-anak berusia 15-21 tahun untuk semakin memantapkan persiapan mereka menjadi warga gereja dan warga masyarakat yang dewasa dan bertanggungjawab.

b.    Bila dipandang perlu dan sesuai dengan kebutuhan, dapat diadakan katekisasi secara tersendiri bagi warga jemaat berusia di atas 21 tahun yang belum naik sidi.

c.    Bahan pelajaran (Buku Pedoman Katekisasi di GKPI) disediakan Kolportase/Kantor Pusat GKPI dan dapat dilengkapi dengan buku-buku pelajaran katekisasi maupun literatur-literatur Kristen lainnya yang diterbitkan gereja/badan-badan penerbit Kristen yang seasas dengan GKPI.

d.    Titik berat tidak diletakkan pada penguasaan materi pelajaran secara kognitif (menghafal), melainkan pada pemahaman dan penghayatan (afektif) serta penerapannya di tengah kehidupan gereja dan masyarakat. Pengajarnya seboleh-bolehnya adalah pendeta.

3.2.5.4.    Pemuda-Pemudi (PPGKPI)
a.    Di jemaat dibentuk satu seksi khusus bagi pemuda-pemudi yang sudah naik sidi.
b.    Kegiatannya tidak hanya Paduan Suara dan Kelompok/Vokal, melainkan juga Kebaktian Pemuda/i dan kegiatan kerohanian lainnya. Di samping itu juga melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, yang menyiapkan ataupun membuktikan kemampuan mereka sebagai warga gereja dan warga masyarakat yang sudah dewasa; antara lain: percakapan tentang tata pergaulan muda-mudi, masalah-masalah di dalam gereja dan masyarakat beserta gagasan pemecahannya (termasuk masalah Narkoba, HIV/AIDS, penegakan Hak-hak Asasi Manusia, perkelahian pelajar, dll.), serta karya sosial dan karya-bhakti nyata untuk merawat, membenahi dan melestarikan lingkungan hidup.

c.    Pemuda-pemudi diberi kesempatan mengurus dan memimpin seksinya sendiri, didampingi pembina (paniroi) dari antara para pelayan Jemaat yang sudah ditahbiskan.

d.    Dalam rangka koordinasi kegiatan dan pembinaan pada aras yang lebih luas, pada aras resort dibentuk Koordinator Seksi PPGKPI, dan di Pusat dibentuk Urusan PPGKPI [dan Mahasiswa].

3.2.5.5.    Perempuan
a.    Di Jemaat dibentuk satu unit organisasi khusus (seksi) bagi perempuan yang sudah berumahtangga ataupun yang belum berumahtangga namun sudah tidak bergabung lagi dalam seksi PPGKPI.

b.    Program Pembinaannya diselenggarakan menurut pola pembinaan yang sudah digariskan sebelum periode ini, diperkaya oleh pola dan materi pembinaan yang lebih mutakhir, sebagaimana antara lain dapat diperoleh dari Biro Perempuan PGI dan Komisi Perempuan PGIW.

c.    Di samping kegiatan yang bersifat kerohanian, kegiatan-kegiatan yang lebih bersifat umum (pembinaan kesehatan/perawatan tubuh, menyiapkan makanan bergizi, mengasuh dan mendidik anak, pembinaan kehidupan rumahtangga yang harmonis, pembagian peran wanita dan pria secara lebih adil, dsb.), perlu diberi perhatian lebih besar.

d.    Melalui seksi ini kaum perempuan juga disiapkan dan dibekali untuk lebih banyak berperan dalam kehidupan dan pelayanan pada semua aras (Jemaat hingga Synode/Pusat).

e.    Dalam rangka koordinasi kegiatan dan pembinaan pada aras yang lebih luas, pada aras resort dibentuk Koordinator Seksi Wanita, dan di Pusat dibentuk Urusan Perempuan.

3.2.5.6.    Pria
a.    Di Jemaat dibentuk satu unit organisasi khusus (seksi) bagi pria yang sudah berumahtangga, ataupun yang belum berumahtangga namun sudah tidak bergabung lagi dalam seksi PPGKPI.
b.    Di samping Paduan Suara, Ibadah dan Penelaahan Alkitab, di dalam seksi ini kaum pria membekali diri untuk lebih mampu berperan sebagai saksi dan pelayan Kristus di dalam/melalui pekerjaan dan profesi masing-masing. Untuk itu dapat diadakan diskusi, seminar, pelatihan, dsb.
c.    Dalam rangka memperluas wawasan tentang seluk-beluk pembinaan dan kegiatan Seksi Pria, seksi ini perlu melakukan studi banding ke gereja-gereja tetangga yang seasas.
d.    Dalam rangka koordinasi kegiatan dan pembinaan pada aras yang lebih luas, pada aras resort dibentuk Koordinator Seksi Pria, dan di Pusat dibentuk Urusan Pria.

3.2.5.7.    Kategori-kategori Khusus
Sesuai dengan kebutuhan dan kondisi jemaat [dan resort] masing-masing, dapat diadakan program pembinaan bagi kategori-kategori khusus, misalnya bagi para petani, peternak, guru, pengusaha/pedagang, tukang, dsb. Kepada mereka diberi pembekalan rohani agar dapat mengembangkan profesinya sesuai dengan iman Kristen. Selain itu mereka diberi tambahan bekal pengetahuan ketrampilan sesuai dengan bidang masing-masing. Program ini ditangani oleh Seksi Pengembangan Masyarakat di tingkat Jemaat, dengan koordinasi Badan Pengembangan Masyarakat di tingkat Resort ataupun Pusat, dan berkait erat dengan Bidang Diakonat (lihat butir 4.6 di bawah).

3.3.    Penggembalaan
Untuk lebih menjabarkan dan melengkapi upaya dan proses Pembinaan yang sudah dikemukakan pada bidang Apostolat (butir 2) dan Pembinaan Warga Gereja (butir 3.2), berikut ini ditambahkan beberapa butir yang lebih spesifik di bidang Penggembalaan.
3.3.1    Penggembalaan bertujuan membimbing pelayan dan warga GKPI agar hidup berpadanan dengan ajaran dan perilaku kristiani, sebagaimana termaktub dalam Alkitab, P3I-GKPI dan TP-GKPI, dan dilakukan oleh para pelayan GKPI di setiap aras sesuai dengan tugas dan keperluannya.

3.3.2    TP-GKPI harus diupayakan agar tetap aktual dan relevan sebagai Pedoman Disiplin Warga dan Pelayan  GKPI. Untuk itu pada periode yang lalu telah diupayakan revisinya (yang tetap dimungkinkan untuk direvisi ke depan berdasarkan masukan dari berbagai pihak).

3.3.3    Upaya dan kegiatan Penggembalaan khusus di aras (tingkat) jemaat yang perlu digiatkan dan lebih ditingkatkan pada periode ini antara lain adalah:

3.3.3.1.    Perkunjungan Rumah Tangga
a.    Perkunjungan oleh Pendeta dan/atau Anggota Majelis Jemaat yang sudah ditahbiskan, dilakukan secara teratur (sekali 6 bulan) ke setiap rumah tangga, dan tidak digabungkan dengan penyelenggaraan Kebaktian Lingkungan (bnd. butir 3.2.4.b.) ataupun dengan pengumpulan Bhakti Bulanan (ataupun dana-dana lainnya). Pada perkunjungan itu diadakan percakapan pastoral dalam suasana kekeluargaan, menyangkut apa saja yang dialami keluarga itu.

b.    Mengingat bahwa kegiatan ini sangat penting namun juga membutuhkan banyak waktu, padahal pendeta harus melayani banyak jemaat di dalam satu resort, sedangkan anggota Majelis Jemaat pada umumnya mempunyai tugas utama yang menyita hampir seluruh waktunya, maka kegiatan ini akan didukung oleh pengintensifan pemekaran resort ataupun penugasan pendeta sebagai pendeta jemaat, sesuai dengan ketentuan yang sudah dibuat untuk itu.


3.3.3.2.    Penggembalaan Pra-Nikah (Pre-marital Counseling)
a.    Upaya penggembalaan bagi pasangan warga GKPI yang akan menikah akan lebih digiatkan, dengan tujuan agar mereka sungguh-sungguh memahami dan menghayati prinsip-prinsip perkawinan dan rumahtangga Kristen, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu (Undang-undang Perkawinan, Etika Seksual, dsb), sehingga mampu mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan perkawinan/-rumahtangga mereka berdasarkan bekal tersebut. Dengan demikian mereka tetap dapat menjaga kesucian dan kemuliaan perkawinan dan tidak terjerumus kepada perilaku yang bertentangan dengan iman Kristen (antara lain: bercerai, berbuat serong/berselingkuh, poligami, dsb.).

b.    Penggembalaan ini diberikan oleh pendeta dan/atau Ketua Majelis Jemaat, paling kurang selama sebulan, sebelum pasangan tersebut mengadakan Ikatan Perjanjian Pra-Nikah (Martumpol).

3.3.3.3.    Penggembalaan bagi yang melanggar Tata Penggembalaan (TG)
a.    Penggembalaan khusus bagi mereka yang melanggar TG di-selenggarakan menurut tata cara yang sudah diatur di dalamnya. Sehubungan dengan itu ditekankan bahwa yang terutama perlu dibimbing dan digembalakan bukan hanya mereka yang terkena TG menyangkut perilaku (khususnya yang menyangkut kasus seksual dan perkawinan), tetapi juga yang menyangkut ajaran, yaitu menganut dan mempraktekkan ajaran yang bertentangan dengan ajaran dan Pokok-pokok Pemahaman Iman GKPI.

b.    Kepada mereka yang menganut dan mempraktekkan ajaran yang menyimpang dari ajaran GKPI diberi katekisasi khusus secara teratur dan intensif, dan diupayakan agar jangan sampai keluar dari persekutuan jemaat.

3.3.3.4.    Penggembalaan bagi yang bermasalah khusus
a.    Mengingat semakin banyak dan kompleksnya masalah yang muncul dalam kehidupan masyarakat akibat modernisasi dan globalisasi, dan semakin banyaknya warga [dan pelayan] Gereja (termasuk GKPI) yang terlibat di dalamnya - antara lain: kenakalan remaja, keretakan rumah-tangga (broken home), penyakit berat dan kronis, penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba), praktek-praktek perjudian yang kian canggih, suami-isteri bekerja sehingga kurang waktu merawat orangtua yang lanjut usia, dsb. Maka para pelayan GKPI perlu mengupayakan dan mengembangkan berbagai pola pelayanan dan penggembalaan baru bagi mereka yang menghadapi masalah-masalah khusus seperti itu.

b.    Sehubungan dengan itu para pelayan GKPI perlu semakin meningkatkan kerjasama dengan para ahli di bidang-bidang itu, seraya memanfaatkan hasil-hasil positif dari berbagai bidang ilmu dan memperhatikan ketentuan undang-undang yang berlaku, sehingga setiap warga [dan pelayan] GKPI yang bermasalah sungguh-sungguh mendapat penggembalaan yang holistik (menyeluruh) dan relevan dengan kebutuhan dan masalahnya.

3.3.3.5.    Penggembalaan oleh Pimpinan Pusat
a.    Untuk memelihara komunikasi antara Pimpinan Pusat dengan para pelayan dan warga GKPI, dan untuk memberi bimbingan kepada mereka menyangkut berbagai hal demi untuk memulihkan dan memantapkan kesatuan, ketertiban dan kedamaian di GKPI, Pimpinan Pusat mengirim Surat Penggembalaan secara teratur, baik berupa Surat Penggembalaan Umum kepada seluruh pelayan dan warga GKPI, maupun kepada pelayan dan jemaat tertentu.

b.    Surat Penggembalaan juga perlu diterbitkan Pimpinan Pusat GKPI dalam rangka menanggapi dan menyikapi berbagai peristiwa dan perkembangan yang terjadi di tengah kehidupan berbangsa, bernegara, dan antar umat beragama, agar warga jemaat memiliki pegangan dan tidak mengambil sikap dan tindakan sendiri-sendiri. Dalam hal ini Pimpinan Pusat GKPI dapat memanfaatkan atau mengacu pada surat-surat penggembalaan dan pernyataan yang diterbitkan PGI dan lembaga-lembaga oikumenis lainnya (bnd. bab III).

3.4.    Penegakan Ajaran yang Benar
3.4.1.    Penegakan ajaran yang benar bertujuan mewujudkan persekutuan gereja yang "tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran" (Ef. 4:14) serta membekali pelayan dan warga GKPI agar "siap sedia pada segala waktu untuk memberikan pertanggungan-jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan-jawab tentang pengharapan yang ada padamu" (1 Ptr. 3:15).

3.4.2.    Pegangan pokok dalam upaya Penegakan Ajaran yang Benar adalah Alkitab, Pengakuan Iman Rasuli, Katekhismus Dr. Martin Luther, Pokok-pokok Pemahaman Iman GKPI, dan juga Pemahaman Bersama Iman Kristen  (salah satu dari Dokumen Keesaan Gereja yang disusun PGI). Kelima bahan pegangan ini diberi tempat dan perhatian penuh, terutama dalam program pembinaan pada seluruh kategori dan aras.

3.4.3.    Upaya Penegakan Ajaran yang benar tidak dilakukan melalui program tersendiri, melainkan sudah tercakup dalam berbagai program di bidang Apostolat maupun Pastorat, seperti telah dikemukakan di atas, terutama dalam program Pembinaan Warga Jemaat, yang bersifat umum/menyeluruh maupun yang kategorial.

3.4.4.    Bagi para pelayan dan warga jemaat yang mempunyai minat khusus untuk mendalami ajaran gereja, dapat diselenggarakan program Pendidikan Teologi Jemaat, di tingkat jemaat ataupun resort, secara sendiri-sendiri maupun bekerjasama dengan gereja-gereja dan lembaga-lembaga gerejawi lain yang seasas.

3.4.5.    Untuk menjawab dan menjelaskan masalah-masalah etis modern yang timbul di dalam masyarakat, sesuai dengan perkembangan dan proses modernisasi, serta yang berkait dengan dan berdampak bagi ajaran gereja, misalnya: keluarga berencana, bayi tabung, inseminasi, pencangkokan organ tubuh, kloning, euthanasia (atau hak mencabut nyawa oleh kesepakatan keluarga dengan petugas medis), dsb., perlu dibentuk suatu wadah pengkajian teologis atas masalah-masalah itu, bagi para pelayan dan warga GKPI.

4.    Bidang Diakonat (Pelayanan Kasih dan Pengembangan Masyarakat)
Bidang Diakonat mempunyai dua segi utama, yaitu Pelayanan Kasih (karitatif) dan Pengembangan Masyarakat (transformatif). Tujuannya adalah mempersaksikan dan memberlakukan kasih dan rahmat Allah di tengah kehidupan konkret umat manusia (bnd. Kis. 6:1-4 dan 1 Kor. 16:1-4). Sasaran yang hendak dicapai bukan hanya mengatasi akibat yang ditimbulkan masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan itu (kuratif), melainkan juga - dan terutama - menemukan akar-akar dan mengatasi penyebab-penyebab mendasar dari masalah itu (preventif dan struktural). Kegiatan dan program Diakonat bukan sekedar didorong belas kasihan (karitatif), melainkan - dan terutama - didorong semangat membarui dan membangun/mengembangkan masyarakat (reformatif dan transformatif).

4.1.    Pelayanan Kasih
Pelayanan kasih mencakup Pendidikan Khusus, Pelayanan Kesehatan, Pemeliharaan Yatim-Piatu, Jompo dan Fakir-Miskin, Bantuan Kemanusiaan bagi sesama manusia yang sedang mengalami penderitaan dan membutuhkan pertolongan mendesak, dan Penciptaan Lapangan Kerja.

4.1.1.    Pendidikan Khusus
a.    Pendidikan khusus diselenggarakan GKPI bagi anak-anak warga jemaat maupun masyarakat luas yang mempunyai masalah khusus, terutama yang menyandang cacad netra. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan, melanjutkan pengelolaan dan mengembangkan sarana yang sudah ada, yaitu Yayasan Pendidikan Tunanetra Sumatera di Tanjung Morawa (yang di dalamnya GKPI ikut sebagai Badan Pendiri), berdasarkan asas pendidikan Kristen dan mempedomani semua ketentuan perundang-undangan mengenai hal itu.

b.    Bila memungkinkan, akan dibuka dan diselenggarakan juga pendidikan khusus bagi anak-anak yang mempunyai kesulitan atau cacad lain.

4.1.2.    Pelayanan Kesehatan
a.    Pelayanan kesehatan hanya akan diselenggarakan di daerah-daerah yang pelayanan kesehatannya belum memadai, atau di sektor-sektor yang belum sepenuhnya ditangani pemerintah maupun swasta lainnya, misalnya operasi cacad-sumbing, agar sarana, daya dan dana tidak menjadi mubazir.

b.    Pelayanan kesehatan akan lebih dititik-beratkan pada bimbingan, penyuluhan dan pencegahan, termasuk di dalamnya penyediaan sumber makanan dan minuman yang bergizi.

c.    Pelayanan kesehatan diselenggarakan dengan mempedomani prinsip-prinsip pelayan kesehatan secara kristiani, antara lain: melihat manusia dan masalah kesehatannya secara holistik (menyeluruh) dan lebih mengutamakan pemberian pertolongan dan uipaya penyelamatan jiwa manusia daripada penerimaan imbalan/ganti rugi atas jasa yang diberikan.

d.    Dana bagi pelayanan kesehatan akan semakin digalang dari dalam negeri, sambil tetap mengupayakan penggalangan dari luar negeri, antara lain melalui Yayasan Dana Agape GKPI.

e.    Dalam rangka mempertajam visi dan meluaskan cakrawala pelayanan kesehatan, GKPI akan lebih banyak ambil bagian dalam Lembaga Pelayanan Kesehatan Kristen Indonesia (Pelkesi).

4.1.3.    Pemeliharaan Yatim Piatu, Jompo dan Fakir Miskin
a.    Pemeliharaan Yatim Piatu, Jompo dan Fakir Miskin diselenggarakan di jemaat-jemaat ataupun secara terpusat, dengan tujuan menolong mereka dan/atau memampukan mereka menggapai masa depan yang lebih baik.

b.    Secara terpusat pemeliharaan Yatim Piatu diselenggarakan di Panti Asuhan Mamre Pematang Siantar. Biaya pengelolaannya akan lebih digalang di dalam negeri, terutama dari jemaat-jemaat GKPI, agar tidak lagi terlalu mengandalkan bantuan luar negeri.

c.    Yatim-piatu, jompo dan fakir-miskin yang tidak terhimpun di Panti Asuhan Mamre, akan diupayakan penampungannya di panti-panti lain yang dikelola GKPI ataupun badan-badan lain. Bagi yatim piatu yang masih bisa bersekolah akan diupayakan bantuan berupa beasiswa, sedangkan bagi yang sudah bisa bekerja akan diupayakan pembekalan ketrampilan dan pemberian modal kerja, antara lain melalui Yayasan Dana Agape GKPI.

4.1.4.    Bantuan Kemanusiaan
a.    Bantuan Kemanusiaan bagi sesama manusia yang sedang mengalami penderitaan dan membutuhkan pertolongan mendesak diberikan menurut jenjangnya: di tingkat lokal oleh/melalui jemaat, di tingkat regional oleh/melalui resort atau wilayah, dan di tingkat nasional atau internasional oleh/melalui Sinode (Pusat), dengan tidak menghambat spontanitas warga jemaat dan tidak menciptakan birokrasi.

b.    Bantuan Kemanusiaan diberikan menurut kemampuan GKPI di setiap aras, dengan tidak membeda-bedakan agama, suku, bangsa dan bahasa dari mereka yang membutuhkan. Mengingat bahwa pada tahun-tahun terakhir ini sangat banyak terjadi kerusuhan yang bernuansa agama, yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir, maka di samping ikut mengupayakan pemecahannya secara mendasar, GKPI juga memberi bantuan dan perhatian kepada para korban kerusuhan ini.

4.1.5.    Penciptaan Lapangan Kerja
a.    Upaya menciptakan lapangan kerja, khususnya bagi warga muda GKPI yang putus sekolah, antara lain dijalankan dengan menyelenggarakan Balai Latihan Kerja atau Pusat Ketrampilan di tingkat jemaat/resort maupun Pusat, bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang sudah diselenggarakan GKPI, al. STM, SMEA, Badan Pengmas dll, maupun yang diselenggarakan oleh warga GKPI, warga/badan gereja lain, pemerintah ataupun lembaga swasta lain yang bersifat nir-laba (non-profit) yang bersedia membantu GKPI.

b.    Produk dari upaya ini, berupa tenaga-tenaga trampil, akan diupayakan menyalurkannya kepada dan melalui warga GKPI yang berwirausaha, dengan menjalin komunikasi, antara lain melalui Suara GKPI.

c.    Dana untuk upaya di bidang ini akan digalang dari lingkungan warga GKPI maupun dari mitra di luar negeri, antara lain melalui Yayasan Dana Agape GKPI dan Badan Pengembangan Masyarakat (Pengmas) GKPI.

4.1.6.    Penyelenggaraan Bulan Diakonia
a.    Untuk membangkitkan dan meningkatkan kesadaran, keterlibatan serta dukungan seluruh warga jemaat di bidang Diakonia, pada bulan tertentu di sepanjang minggu-minggu setelah Trinitatis (antara Juni - Oktober) di setiap jemaat dan resort diadakan bulan Diakonia.

b.    Pada bulan diakonia ini seluruh pemberitaan firman Tuhan pada Kebaktian Minggu, Kebaktian Lingkungan, dan Penelaahan Alkitab pada setiap seksi, mengambil tema dan berfokus pada Diakonia (Pelayanan Kasih dan Kemanusiaan).

c.    Di sepanjang bulan Diakonia ini juga diadakan kegiatan yang menunjang pengembangan Diakonia pada aras jemaat, resort, hingga Pusat, a.l. perkunjungan ke Panti Asuhan dan Panti Tunanetra (milik GKPI maupun gereja/lembaga lain), menyebarkan informasi hal-hal yang sudah disebut pada butir 4.1.1. s/d 4.1.5. maupun pada butir 4.2. di bawah, dan mengadakan diskusi/seminar untuk membedah akar-akar dan penyebab utama berbagai masalah sosial (ketidakadilan, pelanggaran HAM, dsb.).

4.2.    Pengembangan Masyarakat
4.2.1.    Sasaran  dan Strategi
a.    Sasaran : "Memampukan masyarakat untuk memecahkan masalahnya sendiri."
-    Pengmas GKPI adalah motivator masyarakat untuk mengembangkan kemampuan mereka.
-    Pengmas GKPI adalah pendamping masyarakat di dalam pergumulannya dan di dalam setiap usahanya memecahkan masalahnya.
-    Pengmas GKPI adalah rekan sekerja masyarakat dalam menyusun program dan keseimbangan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan .
-    Pengmas GKPI menyusun programnya berdasarkan kebutuhan masyarakat.

b.    Strategi: "Bersama-sama dengan masyarakat memecahkan masalah mereka."
-    Pengmas GKPI melihat masyarakat sebagai subyek, bukan obyek.
-    Pengmas GKPI menyusun program jangka pendek (1 tahun) dan jangka panjang (3 tahun) berdasarkan kebutuhan masyarakat.
-    Pengmas GKPI juga harus mampu melayani program masyarakat yang mendesak.
-    Pengmas GKPI harus mampu menganalisa kasus yang muncul di tengah masyarakat, dan berdasarkan analisa itu bersama masyarakat menentukan prioritas aksi.
-    Membentuk seksi dan koordinator Pengmas di dalam jemaat/resort.


4.2.2.    Tujuan
Sejalan dengan sasarannya, program Pengembangan Masyarakat bertujuan menggali, mengaktualisasikan dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri masyarakat itu sendiri, khususnya warga GKPI, agar mampu membangun diri dan masyarakatnya. Pengembangan dan pembangunan masyarakat dititikberatkan pada pembangunan mental dan etos kerja, jadi         bukan pada pembangunan sarana dan prasarana fisik semata-mata.

4.2.3.    Pelaksanaan
Pengembangan masyarakat, terutama di bidang sosial-ekonomi, diupayakan dengan membentuk seksi ataupun Kelompok-kelompok Pengembangan Masyarakat ditingkat Jemaat, Resort dan Wilayah, di bawah koordinasi dan supervisi Badan Pengembangan Masyarakat (Pengmas) GKPI yang ada di tingkat Pusat.

4.2.4.    Metode
Kelompok dan Badan Pengembangan Masyarakat ini juga melakukan studi         dan pengkajian atas berbagai masalah sosial, dengan tujuan mencari akar atau penyebab terdalam dari masalah itu, dengan menggunakan metode analisis sosial dan metode studi kasus  yang ilmiah, serta menyodorkan gagasan-gagasan pemecahan secara komprehensif.

4.2.5.    Pendanaan
Dana bagi upaya dan program Pengembangan Masyarakat di tingkat Jemaat hingga Pusat akan semakin digalang dari dalam negeri (terutama dari lingkungan GKPI), sambil tetap mengupayakan bantuan dari mitra di luar negeri sebagai pelengkap.
 


Kantor Pusat - GKPI
Jl. Kapt Sitorus No. 13
Pematang Siantar, Sumatera Utara
Telp (0622) 22664
Fax (0622) 433625
HP 081370021990
E-mail KANTOR SINODE GKPI
kantorpusat-gkpi@indo.net.id;
gkpi-pms@indo.net.id
E-mail. Web. infokom@gkpi.or.id
E-mail Majalah SUARA GKPI
           suaragkpi@yahoo.com
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Kalender Ulang Tahun
Selamat Ulang Tahun kepada:
Gereja Kristen Protestan Indonesia
KANTOR SINODE Wilayah Jabodetabek
Wilayah Medan I Wilayah Siantar Simalungun
Wilayah Asahan Wilayah Tanah Karo/Alas
Wilayah Dairi Wilayah Samosir
Wilayah Toba Wilayah Humbang
Wilayah Silindung Wilayah Tapanuli Tengah
Wilayah Sumatra Bagian Selatan Wilayah Riau Utara
Wilayah Jawa Kalimantan Wilayah Deli Serdang
Wilayah Labuhan Batu Wilayah Kepulauan Riau
Wilayah Pahae Wilayah Tapanuli Selatan
Wilayah Langkat Wilayah Medan II
Wilayah Tebing Tinggi Wilayah Riau Selatan
Lembaga
Video Galleri - GKPI
MARS GKPI
VIDEO PS.EKKLESIA GKPI SALAK KOTA
Seksi Pria GKPI Jemaat Pondok Timur, Resort Bekasi
MARS GKPI Cipt. Bonar Gultom
PP GKPI Resort Khusus Kabanjahe
Mamre oh Mamre
Vitor Hutabarat dalam acara Penahbisan Pendeta dan Evangelish di GKPI Air Bersih tgl 6 Mei
Vocal Group Pria GKPI Resort Teladan
GKPI TVRI 2/3
GKPI TVRI 3/3
GKPI TVRI 1/3
Paduan Suara Asa Taruli sie Perempuan GKPI Tangerang
Gita Sorga Bergema - Paduan Suara GKPI Tangerang
Renungan Hari Ini
29 Sep 2014
Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan (2 Timotius 1:12).
28 Sep 2014
“Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Matius 21:32).
Online Support
Administrator Administrator
This text will be replaced by the flash music player.
copyright ©2014 Gereja Kristen Protestan Indonesia
all rights reserved.