Cari Gereja Berdasarkan
No data available
Berita Selengkapnya - Gereja Kristen Protestan Indonesia
29 Mei 2013

In Memoriam
(05 Maret 2006 – 05 Maret 2013)

Pada Sabtu, 23 Maret 2013 yang lalu, bertempat di Balai Rasa Sayang, Hotel Polonia, berlangsung peringatan 7 tahun meninggalnya Pdt. Prof. Sutan Manahara, Ph.D, salah satu pendiri dan Sekretaris Jenderal pertama GKPI, yang meninggal di RS. Elisabet Medan pada Minggu, 5 Maret 2013 di usia menjelang 85 tahun. Keluarga besar menyelenggarakan kebaktian yang diikuti peluncuran dua buku berisi khotbah dan pemikiran almarhum pendeta yang lebih dikenal dengan panggilan Doktor Sutan tersebut.
Sutan Manahara Hutagalung lahir di Sosor Topi Aek, Hutagalung, Tapanuli Utara, 20 Agustus 1921 sebagai putra dari St. Elieser Hutagalung dan Lena br. Simorangkir. Sejak usia sekolah di zaman penjajahan ia menjalani pendidikan mulai dari Holland Inlandsche School/HIS (setingkat SD) di Sigompulon, Tapanuli Utara, kemudian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/MULO (setingkat SMP) di Tarutung dan Pematangsiantar, dan melanjut ke Algemeene Middelbare School/AMS (setingkat SMA). Ia sempat bekerja sebagai opsiner dan Kepala Bagian Keamanan di Penjara Istimewa Seumur Hidup di Sragen, Jawa Tengah, mengikuti Kursus Sekolah Menengah Tinggi Kehakiman bagian Kepenjaraan di Jakarta dan kemudian hari diangkat menjadi Kepala Penjara Klaten, Jawa Tengah. Peristiwa-peristiwa penting pada episode ini jua yang Tuhan pakai untuk kemudian menghantar beliau mengambil keputusan untuk menjadi pendeta.
Pada 1949, di usia 28 tahun, beliua melanjutkan kuliah di STT Jakarta dengan beasiswa. Kuliah tersebut diselesaikan dalam tempo 4 tahun sebagai lulusan terbaik kedua dan mendapat beasiswa untuk program Master of Teology (MTh) dan Doctor of Philosophy (Ph.D) di Divinity School of Theology, Yale University, Amerika Serikat. Pada 1955, beliau meraih gelar Magister Teologi dan pada 1958 meraih gelar doktor teologia dengan mempertahankan disertasi berjudul “Masalah Kebebasan Beragama di Indonesia 1800-1958”. Dengan demikian, beliau menjadi doktor teologi kedua di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) setelah Dr. Andar Lumbantobing yang lulus dari Jerman pada 1957.
Beliau kembali ke Indonesia dan melayani di gereja HKBP sebagai dosen di STT Nomensen dan pendeta diperbantukan di Distrik Sumatera Timur, selain menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Nommensen Pematangsiantar yang turut dibidaninya pada 1962. Konflik besar di dalam tubuh HKBP berujung pada berdirinya Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) pada 30 Agustus 1964 di mana kemudian Dr. Andar Lumbantobing menjadi Bishop pertama dan Dr. Sutan Hutagalung menjadi Sekretaris Jenderal pertama, jabatan yang beliau jalankan selama periode 1966-1977 dan 1983-1988. Sejak adanya GKPI, beliau pernah menjadi guru besar tamu di Lutheran School of Theology di Chicago dan Wittenberg University di Springfield, Amerika Serikat (1972-1973) dan di Lembaga Riset LWF Strasbourg, Prancis (1977-1982). Selain di gereja, Dr. Sutan juga aktif di lingkungan pemerintahan dan politik, antara lain sebagai anggota DPR-GR Kota Pematangsiantar (1961-1969).

Acara peringatan yang cukup sederhana tersebut dihadiri oleh sekitar 200 undangan dari kalangan pendeta, akademisi, kerabat dan sahabat, antara lain Bishop GKPI Pdt. Patut Sipahutar, Sekjen GKPI Pdt. Oloan Pasaribu, Ka. Biro 1 Pdt. Humala Lumbantobing, Ka. Biro 3 Bapak Togar Lumbantobing, Ka. Biro 4 Pdt. Salomo Simanungkalit, beberapa pendeta GKPI yang masih aktif (a.l., Pdt. Radja Lubis, Pdt. Rodion Tampubolon, Pdt. Edwin Sianipar, Pdt. Abdul Hutauruk) maupun sudah pensiun (a.l., Pdt. Sonti Siregar, Pdt. W. Lubis), beberapa tokoh gereja lain, diantaranya, Pdt. Dr. J.R. Hutauruk (mantan Ephorus HKBP), Pdt. Matius Panji Barus MTh  (Ketua Moderamen GBKP).

Dari kalangan akademisi, tampak hadir dari Institut Teologia Abdi Sabda (ITAS), Dr. Jontor Situmorang MTh. (Rektor) dan Dr. Jan Jahaman Damanik MTh. (Dosen), Pdt. Bonar Tobing (STT HKBP), dan penulis masalah-masalah gereja dan sosial Pendeta Estomihi Hutagalung (GMI), Rainy MP Hutabarat dan Salomo Simanungkalit (keduanya kolumnis di Harian Kompas), dan beberapa wartawan daerah. Juga hadir Ny. G.M. Panggabean, Ir. J.P. Sitanggang dan istri, Dr. Christopher Tobing, dan warga GKPI lainnya. Sangat mengharukan adalah kehadiran para pelaku dan saksi sejarah berdirinya GKPI yang sudah sepuh seperti St. E. Tanjung dan Ny. Julianus Hutabarat br. Siregar dengan anak-anak mereka, serta dari GKPI Siantar Kota, Koor Maria pimpinan Ny. Dr. Sutan Hutagalung serta Koor Jalan Simbolon yang sudah berusia lebih dari 44 tahun.

Kebaktian berlangsung khusuk dipimpin oleh Pdt. Oberlin Siahaan, salah satu mantan mahasiwa pertama Dr. Sutan yang kemudian menggantikannya sebagai Sekjen pada 1988. Firman Tuhan yang disampaikan diambil dari Ibrani 13:7 dengan mengupas tema tentang “mengingat pemimpin sebagai contoh dan teladan.” Seluruh persembahan yang diterima dalam kebaktian ini diserahkan ke Kantor Pusat GKPI untuk keperluan Pekabaran Injil. Seusai kebaktian, istri, anak, menantu dan cucu Dr. Sutan menyanyikan lagu Dung Sonang Rohangku, lagu yang sering dinyanyikan almarhum di masa tuanya.

Bagian kedua dari acara adalah peluncuran dan bedah buku berisi khotbah dan pemikiran Dr. Sutan yag selama ini tersimpan di kamar kerja pribadi beliau di rumah Jalan Panyabungan 37, Pematangsiantar. Semasa hidupnya, Dr. Sutan mempunyai kebiasaan untuk membuat catatan, rekaman audio maupun visual dan menyimpan semuanya di kamar kerja pribadi yang tak lain adalah garasi mobil yang dimodifikasi menjadi semacam perpustakaan kecil. Di situ tersimpan lebih dua ribu buku, jurnal, majallah, kliping koran dan berbagai berkas dari zaman beliau masih kuliah.

Gagasan menerbitkan pemikiran Dr. Sutan Hutagalung pertama sekali dibahas oleh beberapa pendeta muda GKPI, antara lain Pdt. Jhon Simorangkir dan Pdt. Irvan Hutasoit pada awal 2010 dengan puteri Dr. Sutan, Hotnida Hutagalung, pada saat mereka mengunjungi pepustakaan kecil yang baru selesai dirapikan dan didatanya setelah kematian Dr. Sutan. Gagasan tersebut disambut baik oleh keluarga, namun karena berbagai kendala rencana tersebut baru dapat mulai direalisir dua tahun kemudian setelah menantu Dr. Sutan, Jhon Silalahi, bertemu kembali dengan teman sejak masa kecilnya, Jansen Sinamo, yang telah menjadi seorang guru etos kondang sekaligus penulis dan editor dari penerbit Institut Darma Mahardika.

Bundel-bundel berisi tulisan-tulisan yang selama puluhan tahun disimpan dengan baik oleh Dr. Sutan diserahkan kepada beliau yang langsung bekerja keras dengan tim penyunting yang dibentuknya, terdiri dari Salomo Simanungkalit (editor bahasa Harian Kompas), Rainy M.P. Hutabarat (cerpenis dan penulis bahasa Harian Kompas), serta Hasudungan P. Sirait, seorang guru untuk penulis dan pelatih wartawan. Segala puji syukur kepada Tuhan, pekerjaan yang dimulai pada akhir 2012 tersebut terwujud pada Maret 2013 dalam bentuk dua buku berjudul “Pemberian adalah Panggilan” yang berisi khotbah dan sejarah GKPI serta “Dari Judas ke Tugu ke Kemiskinan” yang berisi aneka ragam ceramah yang pernah disampaikan di pelbagai kesempatan dan artikel-artikel yang pernah diterbitkan di media cetak.

Seusai penyerahan buku secara simbolis dari editor/penerbit Jansen Sinamo kepada istri almarhum, yaitu Ibu Juliana br. Hutabarat, selaku pemegang hak cipta, dimulai acara bedah buku yang dimoderasi langsung oleh Bapak Jansen Sinamo. Bertindak sebagai pembicara adalah Pdt. Patut Sipahutar (Bishop GKPI) dan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk (Ephorus Emeritus HKBP).

Beberapa poin penting yang disampaikan Pdt. Dr. Raplan Hutauruk berkenaan dengan isi buku yang telah diluncurkan tersebut adalah :
•    Dengan gaya tersendiri, Dr. Sutan menyampaikan pesan-pesan teologis, etis, budaya dan politis melalui khotbah, ceramah maupun tulisan lain dalam ruang yang penuh muatan kehidupan manusia dan kelompok, di mana Dr. Sutan menunjukkan diri sebagai teolog, gembala gerejawi, pemikir dan praktisi.
•    Dr. Sutan termasuk dalam generasi Pasca Zending yang sebagai lulusan Hoogere Theologische School Batavia (STT Jakarta) disamakan dengan para penginjil Barat yang mampu memimpin gereja pada aras resort, distrik dan pusat. Generasi ini menguasai dan memakai bahasa-bahasa asing baik dalam studi maupun komunikasi mereka. Generasi ini juga ikut dalam arus gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Khotbah serta ceramah yang ditulis Dr. Sutan berkaitan erat dengan pengalaman beliau sejak masa-masa tersebut.
•    Khotbah yang disampaikan tetap berdasarkan metode khotbah di kalangan gereja Protestan dengan corak Lutheran dan Reform: manusia berada di hadapan Tuhan Allah; manusia mengaku berdosa di hadapan-Nya serta menerima pengampunan dari-Nya melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus hanya oleh iman dan anugerah serta Firman Allah.
•    Ceramah yang disampaikan Dr. Sutan senantiasa mempunyai alamat tertentu yang beliau kenal sehingga pesannya bukan sekedar hasil pemikiran belaka tetapi menjadi ulasan teologis, etis dan politis yang ingin membantu para pendengarnya memahami masalah yang dihadapi sebagai orang Kristen dan sebagai warga negara yang taat kepada hukum yang berlaku.
•    Sebagai teolog dan pendeta di HKBP (1958-1964) dan di GKPI (1964-2006), Dr. Sutan adalah pelaku sejarah gereja-gereja Batak yang sedang dilanda pergolakan intern, konflik intern para teolog dan pendeta yang merambat ke tengah jemaat. Ceramah dan tulisan beliau berkaitan dengan konflik dan perpecahan di kalangan jemaat (lokal) dan gereja (pusat) dan patut dijadikan sumber dan referensi sejarah lokal gereja-gereja Batak karena pemikiran, analisa dan interpretasi beliau masih relevan buat gereja-gereja kita yang masih belum mampu keluar dari beragam konflik intern.
•    Melalui sosok-sosok manusia ‘Judas’ terasa bagaimana sebagai teolog bidang etika, beliau mendorong dan memberi semangat untuk membaca dan menghayati isi Alkitab. Almarhum adalah sosok yang patut diteladani dalam hal memahami setiap masalah manusia dengan berpedoman pada Alkitab. Setiap khotbah dan ceramah beliau selalu mempunyai dua sumber: manusia dan Firman Tuhan.

Menutup catatan bedah buku yang dilakukannya, Dr. Raplan menyatakan bahwa pesan etis Dr. Sutan telah disampaikan secara kritis, kreatif dan mengalir dari satu khotbah ke khotbah yang lain, dari satu kiasan ke kiasan yang lain, yaitu tentang manusia dan lingkungannya. Salah satu contoh, budaya pembangunan tugu yang sejak era limapuluhan sampai saat ini semakin mengarah kepada kesombongan dan keangkuhan di tengah maraknya kemiskinan mendorong Dr. Sutan membuka padanannya dengan sejarah umat manusia dalam Alkitab (Kej.11:1-9). Beliau mengingatkan kita tentang “tugu atau tanda yang satu itu: Salib Kristus di Golgota sebagai pertanda kasih Allah, penebusan dosa oleh Kristus Yesus, jalan kebaharuan dalam kelepasan dan kebahagiaan.“

Bagi pembicara Pdt. Patut Sipahutar, buku-buku tersebut menjadi dekat pada dirinya ketika ia memandang tulisan-tulisan Dr. Sutan bukan sekedar sebagai pemikiran-pemikiran intelektual atau kajian-kajian ilmiah belaka tetapi adalah juga ekspresi dari seluruh pergumulan dan hidup beliau. Karena itu ia berusaha memahami apa yang dituliskan Dr. Sutan melalui pengalaman sejauh ia mengenal beliau melalui interaksi yang pernah terjadi di antara mereka. Pdt. Patut Sipahutar pertama kali bertemu dengan Dr. Sutan di awal tahun 70an ketika ia harus mengambil surat rekomendasi dari Kantor Pusat GKPI sebagai prasyarat untuk mendaftar ke STT Jakarta. Beliau cukup terkesan karena surat penting yang dibutuhkan pada saat itu dapat selesai dalam tempo satu jam sehingga ia dapat langsung meneruskan perjalanan ke Medan untuk mengurus pendaftaran. Pdt. Patut juga bernostalgia akan rasa bangga selama kuliah di STT Jakarta sebagai mahasiswa yang berasal dari GKPI karena baik di lingkungan STT Jakarta, gereja tetangga maupun Dewan Gereja Indonesia/DGI (sekarang PGI), kedua pimpinan GKPI, Dr. Andar Tobing dan Dr. Sutan Hutagalung, adalah dua sosok yang sangat dikenal dan dihormati sehingga membuat posisi GKPI di kalangan gereja menjadi sangat bergengsi. Kalau ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan-pertemuan DGI, Dr. Sutan senantiasa singgah ke STT Jakarta untuk memberi dorongan kepada para mahasiswa dari GKPI. Ia menyebut mereka sebagai “anak-anak GKPI yang membanggakan”, sebutan yang membuat mereka semakin berbesar hati sebagai bagian dari GKPI.

Ketika sedang menyelesaikan program pasca sarjana, Pdt. Patut tetap berkorespondensi dengan Dr. Sutan yang kala itu berada di Strasbourg, Perancis sebagai guru besar peneliti di Institut Penelitian Lutheran World Federation. Namun baru pada tahun 1981, ketika sedang studi di Geneva, Pdt. Patut mulai semakin mengenal Dr. Sutan melalui tulisan-tulisannya yang diterbitkan oleh buletin Lutheran World Federation. Salah satu tulisan beliau yang berkesan bagi Pdt. Patut kala itu adalah tentang identitas Lutheran, di mana Dr. Sutan menyatakan bahwa tugas gereja bukan untuk menyelamatkan doktrin pengajaran, tetapi pengajaran itu yang harus menyelamatkan gereja. Kelak dalam suatu kesempatan tatap muka, ia mendapat penjelasan lebih jauh dari Dr. Sutan tentang bagaimana kita semua menyaksikan betapa sombongnya gereja yang suka tersinggung kalau pengajaran yang dianutnya atau Tuhan Yesus diremehkan, seolah-olah menjadi tugasnya menyelamatkan pengajaran itu, bahkan menyelamatkan Tuhan Yesus dan lupa bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat dunia dan gereja.

•    Tulisan berkaitan dengan Sinode-Am GKPI tahun 1983 mengingatkan Pdt. Patut bagaimana beliau dan para pendeta muda berdiri dan berbicara di Sinode Am tersebut untuk menyatakan ketidakrelaan mereka apabila pendiri dan tokoh-tokoh GKPI kelak akan pensiun dari HKBP. Hal tersebut mereka cetuskan karena sepulang dari Perancis pada akhir 1982, Dr. Sutan telah terdaftar sebagai guru besar yang mengajar di STT HKBP dan akan pensiun dari sana. Mereka menyerukan panggilan agar Dr. Sutan hadir kembali berkarya di dalam GKPI. Pada sinode tersebut, Dr. Sutan terpilih kembali menjadi Sekjen GKPI.

•    Bagi Pdt. Patut Sipahutar, tulisan berjudul "Ias ni roha, roha na ias" berbicara secara luar biasa tentang apa itu gereja dan kekristenan; apa sebenarnya pergumulan yang kita alami dalam gereja. Satu catatan penting dari Pdt. Patut adalah bahwasanya tulisan inilah yang menjadi dasar dan tenaga penggerak secara luas dalam perjuangan GKPI ketika dipisahkan dari HKBP. Tulisan ini merupakan naskah penting untuk ditempatkan di awal sejarah GKPI karena tulisan itu ada pada substansi bagaimana GKPI bergerak dengan nilai-nilai Ias ni Roha, Roha na Ias.  Ketika pada tahun 1985, era di mana gereja-gereja berkonflik dan ditangani langsung oleh Laksus Pangkomkamtib yang sangat berkuasa di era Orde Baru,  Pdt. Patut terpilih sebagai Sekretaris Umum PGI wilayah Sumatera Utara, suatu jabatan yang diterimanya dengan berat hati. Dr. Sutan memberinya semangat dengan mengatakan bahwa pengalaman Pdt. Patut dalam menangani konflik di GKPI Grogol di Jakarta sangatlah berharga bagi gereja. Dalam menghadapi berbagai kekuatan selama Pdt. Patut menjalankan tugas tersebut, Dr. Sutan senantiasa menasehati, "Kamu adalah tokoh dalam masyarakat, tokoh dalam gereja, lakukanlah apa yang harus dilakukan dengan kesabaran dan dengan ketulusan." Ias ni Roha, Roha na Ias menjadi prinsip.

•    Tulisan tentang Sinode Am 1988 menunjukkan bagaimana  Dr. Sutan melihat ada hal yang harus ditegakkan kembali di GKPI, sesuatu yang sejak semula sudah digagasnya. Ia berupaya bagaimana agar peraturan rumah tangga GKPI berpedoman pada Imamat Am orang percaya, tetapi Sinode tersebut kelihatannya tidak menerima. Setelah sinode ini Dr. Andar dan Dr. Sutan dipensiunkan. Menurut pendapat Pdt. Patut, sesungguhnya tidak ada kata pensiun bagi seorang Dr. Sutan karena ia tidak pernah berhenti dari membaktikan dirinya bagi GKPI sampai akhir hayatnya. Mungkin beberapa tulisan tentang masa pensiunnya bisa dianggap orang cengeng atau terlalu banyak menuntut, namun yang perlu direnungkan adalah apakah melalui itu ia  masih memberi sumbangan kepada GKPI? Seluruh tulisan di dalam kedua buku tersebut mengungkapkan pergumulan Dr. Sutan bagi gereja dan bagi masyarakat. Pdt. Patut bersyukur buku ini akhirnya diterbitkan sehingga mendapat kesempatan untuk lebih memahami pemikiran Dr. Sutan, suatu kesempatan yang belum sempat beliau nikmati ketika pada 1996 Dr. Sutan memberi satu bundel dari tulisan-tulisan tersebut dan meminta Pdt. Patut mengeditnya untuk diterbitkan.

•    Menurut Pdt. Patut Sipahutar, Dr. Sutan selalu berpikir dalam pola pikir Kristiani dan dalam pola pikir Lutheran yang berpedoman pada trinitaris. Etika trinitaris, pola berpikir trinitaris selalu dijaga dan dipelihara dan itu juga juga terungkap dalam hidupnya. Dalam semua pergumulannya, beliau tidak pernah mundur, dan tidak pernah membenci orang. Lingkaran trinitaris esensi-eksistensi-relevansi merupakan pola berpikir dan bertindak doktor Sutan semasa hidupnya. Ketika mengamati dan mengenali suatu gejala yang terjadi, beliau menelusuri esensi dan relevansinya. Mencermati suatu esensi juga ditelusuri eksistensi dan relevansinya. Demikian juga dalam merancang suatu relevansi, dicari esensi dan eksistensi yang sepadan untuk itu.

Sebagai penutup, ia menyampaikan “Dr. Sutan selalu mengatakan bahwa GKPI bukan harus sempurna tetapi harus selalu relevan bagi zamannya; karena itu selalu ia sebutkan bahwa kita harus berubah. Namun dalam perubahan itu ia mencatat, kiranya kita diberi hikmat oleh Tuhan untuk mengubah apa yang bisa diubah dan untuk menyadari dan bersabar menerima apa yang tidak bisa kita ubah. Sekali pun tantangannya berat, tetapi dalam semua kelemahan kita, Dr. Sutan selalu mengajak kita menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa yang memerlukan pengampunan dari Tuhan. Dalam pola pikir seperti itu, maka membaca dan merenungkan tulisan-tulisan tersebut bukan sekedar untuk mengetahui pengajaran yang diberikan, namun agar setiap kali membacanya, ada roh yang baru yang menyemangati kita untuk bersaksi di tengah dunia.”

Saudara Salomo Simanungkalit, editor bagian ceramah dan tulisan juga membagikan sedikit pengalamannya tentang proses penyuntingan naskah-naskah berisi ceramah maupun artikel-artikel Dr. Sutan sampai akhirnya menjadi naskah yang kemudian diterbitkan menjadi buku kedua. Sosok Dr. Sutan bukanlah orang asing bagi Salomo yang sudah mengenalnya sejak ia masih kanak-kanak di Pematangsiantar karena tali persaudaraan dan kedekatan almarhum ayahnya, Bapak Robinson Simanungkalit, yang adalah salah seorang anggota jemaat GKPI yang amat peduli dengan keselamatan fisik Dr. Sutan di awal berdirinya GKPI. Begitu pun, Salomo mengakui bahwa melalui proses penyuntingan yang dilakukannya, ia mendapat wawasan yang lebih mendalam tentang sosok pendeta yang dipanggilnya Tulang tersebut. Sebagai pemerhati bahasa, dengan bersemangat ia menggarisbawahi keunikan Dr. Sutan dalam hal diksi (pemilihan kata dan gaya ekspresi).

Sesi ini diikuti oleh tanggapan dan komentar dari beberapa hadirin. Sekjen Oloan Pasaribu yang membagikan sedikit pengalaman sebagai vikar yang menjadi asisten pribadi Sekjen Dr. Sutan Hutagalung selama setahun di era 80an, mengatakan betapa ia terkesan oleh kejujuran dan wibawa almarhum. Tanggapan juga disampaikan oleh Pdt. Estomihi Hutagalung (GMI). Berkaitan dengan judul buku “Pemberian adalah Panggilan”, ia menyatakan bahwa sering kali kita tidak menemukan –meminjam istilah Jansen Sinamo– shechinah (energi ilahi yang bermuatan kecerdasan, hikmat, dan cinta kasih, yang tidak hanya mengalir melalui kita tetapi mengandung semua kita_pen.) sehingga kita tidak menemukan nilai-nilai yang akan kita perjuangkan dari sesuatu yang kita terima pada perspektif sebagai pendeta. Ia juga menambahkan satu bahan refleksi, “Spirit apa yang bisa diwarisi oleh para pendeta sehubungan dengan nilai-nilai komitmen terhadap pemberian dan panggilan seperti yang dianut seperti oleh Dr. Sutan?”

Bagi Ir. Lambok Antonius Siahaan yang juga adalah bere yang mengenal Dr. Sutan sejak ia kecil, dua hal yang menonjol dalam diri Dr. Sutan adalah kerohanian dan wawasan beliau. Sebagai rohaniawan yang punya wawasan membuat beliau mendekati permasalahan-permasalahan secara multidimensional, suatu kualitas yang sangat perlu dalam konteks republik seperti Indonesia. Dr. Sutan juga selalu berpenampilan bagus dan resik, suatu aspek yang juga penting bagi seorang pemimpin.  Lebih jauh lagi, Ir. Anton menyampaikan bahwa Dr. Sutan bukan orang yang hitung-hitungan, ia menyatakan prinsipnya bukan dalam konteks kalah atau menang, tapi karena ia perlu menyampaikannya. Dalam perjalanan hidupnya, Ir. Anton sendiri melihat bahwa ternyata adakalanya kemenangan tidak dialami semasa kita masih berada di bumi ini, karena pada hakikatnya memang benarlah bahwa seseorang menabur, orang lain menyiram, namun pertumbuhan hanya datang dari Allah. Jika ketika muda Anton cukup sering menjadi ‘ajudan’ yang dipercaya menjaga rumah, menjaga anak-anak Dr. Sutan, dan mengerjakan berbagai tugas, kemudian hari Anton juga sering menjadi teman bertukar pikiran bagi Dr. Sutan, bahkan salah satu dari sedikit orang yang dipercaya sebagai tempat curhat di saat-saat paling sepi dalam kehidupan beliau. Adapun Rainy M.P. Hutabarat merasa perlu menambahkan bahwa khusus untuk etika, Dr. Sutan tidak mengenal wilayah abu-abu, yang hitam adalah hitam dan yang putih adalah putih.

Acara kemudian ditutup dengan doa mengucap syukur atas segala kemurahan Tuhan pada hari yang membahagiakan tersebut. (nrh/jkt200413).

Source: Majalah Suara GKPI Edisi Mei 2013
Kantor Pusat - GKPI
Jl. Kapt Sitorus No. 13
Pematang Siantar, Sumatera Utara
Telp (0622) 22664
Fax (0622) 433625
HP 081370021990
E-mail KANTOR SINODE GKPI
kantorpusat-gkpi@indo.net.id;
gkpi-pms@indo.net.id
E-mail. Web. infokom@gkpi.or.id
E-mail Majalah SUARA GKPI
           suaragkpi@yahoo.com
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Kalender Ulang Tahun
Selamat Ulang Tahun kepada:
Gereja Kristen Protestan Indonesia
KANTOR SINODE Wilayah Jabodetabek
Wilayah Medan I Wilayah Siantar Simalungun
Wilayah Asahan Wilayah Tanah Karo/Alas
Wilayah Dairi Wilayah Samosir
Wilayah Toba Wilayah Humbang
Wilayah Silindung Wilayah Tapanuli Tengah
Wilayah Sumatra Bagian Selatan Wilayah Riau Utara
Wilayah Jawa Kalimantan Wilayah Deli Serdang
Wilayah Labuhan Batu Wilayah Kepulauan Riau
Wilayah Pahae Wilayah Tapanuli Selatan
Wilayah Langkat Wilayah Medan II
Wilayah Tebing Tinggi Wilayah Riau Selatan
Lembaga
Video Galleri - GKPI
MARS GKPI
VIDEO PS.EKKLESIA GKPI SALAK KOTA
Seksi Pria GKPI Jemaat Pondok Timur, Resort Bekasi
MARS GKPI Cipt. Bonar Gultom
PP GKPI Resort Khusus Kabanjahe
Mamre oh Mamre
Vitor Hutabarat dalam acara Penahbisan Pendeta dan Evangelish di GKPI Air Bersih tgl 6 Mei
Vocal Group Pria GKPI Resort Teladan
GKPI TVRI 2/3
GKPI TVRI 3/3
GKPI TVRI 1/3
Paduan Suara Asa Taruli sie Perempuan GKPI Tangerang
Gita Sorga Bergema - Paduan Suara GKPI Tangerang
Renungan Hari Ini
31 Agt 2014
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24).
30 Agt 2014
Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya. (1Tim. 4:10).
Online Support
Administrator Administrator
This text will be replaced by the flash music player.
copyright ©2014 Gereja Kristen Protestan Indonesia
all rights reserved.