Cari Gereja Berdasarkan
No data available
Berita Selengkapnya - Gereja Kristen Protestan Indonesia
30 Apr 2013
Seminar Injil dan Hutan

Masyarakat adalah bagian dari gereja. Gereja dan masyarakat  tidak dapat dipisahkan. Gereja hidup di tengah masyarakat yang sedang menghadapi pergumulan dan tantangan hidup. Kehadiran Gereja adalah untuk menguatkan dan memampukan setiap warga untuk menyadari bahwa Tuhan ada bersama mereka. Sebagaimana Teolog-teolog Amerika Latin yang terkenal dengan Teologi Pembebasan, mereka hadir bersama-sama dengan masyarakat dalam menghadapi ketidakadilan.
GKPI salah satu anggota gereja Komite Nasional-Lutheran World Federation (KN LWF) menyadari akan fungsi dari kehadiran gereja di tengah masyarakat yang sedang menghadapi pergumulan. Sebagaimana berita yang dilangsir oleh mass media, bahwa masyarakat di Pandumaan Sipituhuta sedang menghadapi pergumulan akan hak mengelola Hutan kemenyan. Hal ini telah berlangsung lebih dari 5 tahun yang lalu yaitu sejak Kementerian  Kehutanan memberi Hak pengelolaan Kawasan Hutan kepada PT. Toba Pulp Lestari.  

Sekilas tentang kehidupan masyarakat di Pandumaan Sipituhuta, sebagaimana perbincangan kecil dengan beberapa warga masyarakat di sana, mereka mengatakan bahwa sumber mata pencaharian  di desa tersebut adalah hasil hutan yaitu kemenyan. Ada beberapa warga masyarakat yang mencoba “peruntungan” dengan tanaman hortikultura. Namun tanaman hortikultura tidak dapat berkembang dengan baik. Bahkan padi pun tidak tumbuh baik. Sehingga mereka memahami bahwa hanya kemenyanlah satu-satunya sumber penghasilan di desa tersebut. Jarak hutan kemenyan dengan perkampungan ditempuh lebih kurang antara satu hingga satu setengah jam.

Ketenangan warga masyarakat di kedua desa tersebut di dalam memperoleh penghasilan terganggu dengan kehadiran TPL. Masyarakat setempat mengatakan bahwa luas Hutan kemenyan yang dipahami sebagai tanah adat oleh warga setempat seluas 4.500 ha.  Luas lahan yang telah dikelola oleh TPL hingga saat ini hampir 450 ha.

Berbagai upaya dilakukan oleh warga masyarakat untuk mempertahankan hutan kemenyan tersebut. Namun usaha mereka  selalu gagal, terlebih pada tgl 25-26 Februari  Polisi menangkap 31 orang warga masyarakat. Penangkapan ini terkait dengan berbagai kejadian yang dilakukan oleh masyarakat Pandumaan-Sipituhuta dalam upaya mempertahankan sumber hidup mereka . Di antara mereka 16 orang ditahan di Polda Sumut sedangkan 15 orang lain dilepas.

Sudah berbagai elemen masyarakat mendampingi warga masyarakat ini dalam menghadapi pergumulan mereka. Namun belum mendapat titik terang. Sampai kapankah perjuangan masyarakat Pandumaan Sipituhuta ini?

Bapak Bishop Pdt. Patut Sipahutar, M.Th, pada tgl 9 Maret 2013 di GKPI Resort Khusus (Persiapan) Pandumaan, menyampaikan suatu topik Injil dan Hutan bagi masyarakat Pandumaan Sipituhuta.  Bapak Bishop dalam pemaparannya terlebih dahulu  melihat akan arti dan makna hutan bagi kehidupan manusia. Sebagaimana pada Penciptaan, kata Bapak Bishop, Tuhan terlebih dahulu menciptakan tumbuh-tumbuhan selanjutnya baru manusia. Manusia yaitu Adam pun, Tuhan tempatkan di taman (hutan) Eden, demikian juga di taman itu ada 4 sungai yang mengalir.  Sebagaimana fungsi Hutan salah satunya adalah untuk menyerap air yang akan terus mengalir kembali walaupun pada musim kemarau.

Bapak Bishop juga mengutip Ulangan 20:19 Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya; buahnya boleh kaumakan, tetapi batangnya janganlah kautebang; sebab, pohon yang di padang itu bukan manusia, jadi tidak patut ikut kaukepung.dan 2 Samual 5:23 5 maka bertanyalah Daud kepada TUHAN, dan Ia menjawab: "Janganlah maju, tetapi buatlah gerakan lingkaran sampai ke belakang mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau. kedua kutipan ayat tersebut menunjuk kepada pentingnya Hutan. Saat berperang pun hutan tidak dapat ditebang. Dan pada kitab 2 Samuel Hutan dipandang sebagai tempat perlindungan yang baik di dalam berperang. Dengan melihat apa yang dipaparkan di dalam Kitab Perjanjian Lama, maka dapat disimpulkan bahwa MANUSIA TIDAK DAPAT HIDUP TANPA HUTAN.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada dibicarakan tentang hutan secara eksplisit.  Yang dapat dimaknai secara tersirat adalah saat penyaliban Tuhan Yesus Kristus.  Untuk menyalibkan Yesus Kristus maka pohon pun ditebang.  Dengan kata lain bahwa hutan (pohon) dipergunakan oleh Penguasa bahkan para imam untuk membunuh Yesus Kristus.  Konspirasi ini amat kuat di dalam upaya menghentikan Yesus di dalam menyampaikan kabar baik. Yesus Kristus akhirnya mati. Namun kematian itu dikalahkanNya dengan bangkit pada hari yang ketiga. Akhirnya Yesus pun berpesan kepada para murid saat akan naik ke Sorga di dalam Markus 16:15 "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (Mazmur 92:12  biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai). Ungkapan Yesus kepada segala makhluk menunjuk kepada seluruh ciptaan Tuhan.

Bapak Bishop mengajak warga untuk menyadari bahwa di dalam permasalahan ini semua pihak berpotensi sebagai korban.  Oleh sebab itu semua pihak haruslah arif dan bijaksana di dalam menyikapi akan apa yang dialami oleh masyarakat Pandumaan Sipituhuta.

Dalam seminar ini ada beberapa hal yang menjadi pesan inti yang disampaikan oleh Bapak Bishop yaitu
1.    Hidup manusia tidak terpisah dari Hutan
2.    Perjuangan ini bukanlah hanya perjuangan desa Pandumaan Sipituhuta, tetapi ini adalah perjuangan global. Sebagaimana saat ini dunia ini dilanda oleh pemanasan global. Pemanasan global ditengarai disumbangkan oleh penebangan Hutan serta efek rumah kaca. Demikian juga telah terjadinya lobang ozon yang semakin melebar.  Hutan adalah paru-paru dunia. Oleh sebab itu perambahan hutan atau alih fungsi hutan tidak dapat dilakukan dengan semena-mena.
3.    Gereja peduli di terhadap semangat merawat hutan.
4.    Perjuangan ini adalah perjuangan yang panjang. Oleh sebab itu dibutuhkan semangat spritualitas yang tinggi.
5.    Perjuangan ini jangan diawali dengan sikap permusuhan tetapi dengan sikap moral yang dilandasi oleh firman Tuhan.
6.    Perjuangan ini adalah perjuangan Injil yaitu merawat hutan.

Bapak Bishop juga menekankan bahwa perjuangan ini bukan hanya sekedar menguasai tanah, tetapi adalah bahwa hutan itu adalah sumber kehidupan yang memakmurkan masyarakat Pandumaan Sipituhuta, oleh karena itu wacana yang perlu diintensifkan adalah bagaimana memanfaatkan hutan untuk kemakmuran dan kehidupan warga di sekitar hutan tursebut. Dengan demikian perjuangan adalah bagaimana menata ulang kawasan hutan sebagaimana yang telah diaturkan oleh kementrian kehutanan, sebab masyarakat setempat tidak ingin kehilangan mata pencaharian.

Usai Bapak Bishop, Ephorus HKI Pdt Langsung Sitorus yang adalah ketua KN-LWF  mengingatkan akan perjuangan seorang Pdt Mangaraja Hesekiel Manullang yang menentang Belanda yang berupaya menguasai Hutan, dan beliau diakui oleh Pemerintah sebagai Pahlawan Perintis kemerdekaan. Beliau menyebutkan Pdt. Hesekiel Manullang pada tahun 1920 telah berjuang mempertahankan pengolahan hutan oleh masyarakat setempat. Oleh karena itulah mengapa di tanah Batak tidak ada perkebunan, ini semata-mata adalah oleh karena perjuangan dari Pdt. Manullang tersebut.

Pdt. Langsung Sitorus mengajak warga masyarakat untuk menunjukkan batas-batas tanah (hutan) yang dikelola oleh masyarakat, sebab menurut Pdt. Langsung  Sitorus jika PT TPL “membebaskan”hutan yang dikelola masyarakat tersebut yang berkisar 4.500 ha maka hal itu tidak akan berpengaruh bagi TPL yang menguasai Hutan seluas 188.000 ha.  Pdt. Langsung Sitorus juga mengajak warga untuk tidak saling membenci khususnya kepada warga masyarakat yang bekerja di PT. Toba Pulp Lestari. Mereka juga adalah mencari nafkah.

Ada tiga organisasi yang dapat membebaskan kita yaitu gereja dan Serikat, punguan marga, organisasi ini haruslah menyatu dan ini perlu dibenahi di dalam bersatu padu dalam menyatukan masyarakat di dalam menghadapi tantangan masyarakat.

Suryati Simanjuntak, Sekretaris Pelaksana KSPPM, memaparkan akan pengertian hutan menurut UU kehutanan no 44 Tahun 1999.  Sekaligus ibu Suryati Simanjuntak juga menyampaikan akan tugas dari Negara menurut UUD 1945 psl 33:3 yaitu  Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat.
Namun pemerintah tidak menegakkan tugas ini yang  sesuai dengan konstitusi, yaitu mensejahterakan dan memakmurkan masyarakat yang ada disekitar hutan.
    
Op. Febri mewakili warga masyarakt Pandumaan Sipituhuta mengucap syukur atas kasih Tuhan bahwa gereja-gereja dapat duduk bersama di dalam menguatkan masyarakat Pandumaan.  Berangkat dari pengalaman Op. Febri yang  merasa hampir putus asa di dalam menghadapi pergumulan ini. Namun dengan kehadiran gereja-gereja dari KN-LWF dan PGI D Humbang Hasundutan semangat untuk terus berjuang kembali hadir. Kami, sahut Op. Febri, mendapat dukungan moral dari gereja-gereja.
    
Op. Febri merasa bahwa saat ini masyarakat mengolah tombak (hutan) yang telah turun temurun dikelola nenek moyang mereka. Dengan kejadian ini mereka merasa adalah masyarakat yang terjajah di negara yang merdeka.   Gerakan kecil yang dilakukan oleh masyarakat adalah hanya berupaya untuk membuka mata para pemimpin agar mereka tergerak di dalam merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat yang telah mengalami penderitaan oleh karena mata pencaharian masyarakat telah dibabat oleh TPL. Masyarakat setempat sudah menyampaikan keluhan mereka sampai kepada kementerian kehutanan. Namun hingga kini tidak ada tanggapan atas apa yang dihadapi oleh masyarakat tersebut.

Ibadah Raya

Usai diskusi akan Injil dan Hutan dilanjutkan dengan Ibadah Raya sebagai tanda Solidaritas Gereja dengan masyarakat Pandumaan Sipituhuta. Sebelum ibadah   terlebih dahulu dilakukan penanaman pohon kemenyan di halaman gereja. penanaman Kemenyan ini  memaknai bahwa pentingnya kemenyan bagi kehidupan masyarakat Pandumaan Sipituhuta. Kemenyan adalah sebagai “sumber kehidupan” bagi masyarakat setempat.

Ibadah Raya ini dilayani oleh gereja-gereja anggota KN-LWF. Praeses HKI dan Pdt. Rodion Tampubolon sebagai liturgis, Praeses HKBP pendoa syafaat dan Bishop GKPI Pdt. Patut Sipahutar menyampaikan firman Tuhan.

Di dalam khotbah yang disampaikan Bapak Bishop menyampaikan bahwa saat ini warga masyarakat beserta gereja sedang menghadapi tantangan. Kiranya Tuhan memberi pengharapan bagi setiap warga masyarakat. Sumber kekuatan dan pengharapan itu adalah bersumber dari kekuatan. Tanpa kekuatan maka kita akan mati. Sekarang mari kita melihat apa kekuatan yang ada pada kita? Ada berbagai kekuatan yang ada pada manusia yaitu kekuatan para penguasa,  kekuatan/kuasa ini tetap hingga kini, mereka berkuasa untuk melakukan sesuatu sebagaimana yang dialami oleh masyarakat Pandumaan Sipituhuta. Ada kuasa pada Militer untuk menegakkan hukum, serta mengamankan keputusan pemerintah, kuasa harta atau kekuasaan dari ekonomi. Orang kaya menguasai dunia ini. Nanti di suatu saat bisa jadi presiden tidak ada lagi, yang berkuasa adalah para pengusaha. Dan inilah yang dialami oleh masyarakat yaitu para pemodal bekerjasama dengan pemerintah untuk menguasai tanah, air, udara tidak hanya di Indonesia tetapi diseluruh dunia. Pertanyaan adalah apakah ada kuasa pada kita untuk berjuang? Ternyata tidak ada kuasa pada kita. Jika kita mengandalkan kuasa ekonomi dan kuasa pedang maka kuasa itu akan sia-sia. Jadi kita tidak punya kuasa/kekuatan yang dapat diandalkan.
Oleh sebab itu kuasa/kekuatan mana yang dapat kita andalkan? Tuhan Yesus didalam melakukan tugas pelayanannya mengandalkan kuasa dari Allah Bapa. Kuasa dunia ini melawan Yesus hingga Ia mati disalibkan. Kekuatan/kuasa yang ada pada Yesus adalah sebagaimana yang diungkapkan di dalam   Luk 23:33-34... Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat....
Walaupun dunia bertindak jahat kepada Yesus Yesus mengatakan Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Perkataan Yesus ini dapat menjadi kekuatan bagi kita.

Oleh sebab itu jangan  putus asa karena kita tidak memiliki kekuatan, karena saudara kita ditahan.  Tuhan Yesus  di dalam doa Bapa kami mengajarkan untuk mengampuni. Tidak hanya kita yang merasa takut, pemerintah, polisi pun takut untuk saling bertemu. Ini adalah akibat tindakan kita yang tidak tepat. Agar kita terhindar dari rasa takut maka kita seharusnya saling mengampuni dan tidak akan melakukan kesalahan tersebut dikemudian hari.
    
Oleh sebab itu kita tidak harus melakukan kesalahan di dalam perjuangan ini. Jika kita jatuh ke dalam dosa maka kita selayaknya memohon ampun kepada Tuhan. Hal yang membuat kita sulit berjuang adalah karena kita sulit untuk memaafkan orang lain. ini didasarkan oleh  harga diri dan kita merasa benar jika kita telah melakukan pembalasan.Di pengalaman bertahun tahun ini, maka bisa jadi hati kita sudah banyak yang terluka. Jadi saat berjuang maka yang terjadi adalah membalaskan luka batinnya. Inilah yang membuat kita tidak kuat untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu  perlu ada pemahaman agar dari  tidak ada upaya pembalasan.  Kita adalah masyarakat yang tidak memiliki kuasa/kekuatan. Kita harus yakin  walau kita tidak memiliki kekuatan di dunia ini, dengan mengandalkan kuasa dari Yesus Kristus yaitu mengampuni maka tujuan akan tercapai.

Usai Khotbah maka dilanjutkan dengan pemberian “spir ni tondi”  yaitu kepada warga masyarakat yang sempat ditahan 15 orang, 3 warga yang mengalami pemukulan, dan 16 orang istri/keluarga dari warga yang ditahan di Polda.

Seluruh rangkaian ini berjalan dengan penuh hikmat. Kiranya Tuhan menguatkan dan masyarakat setempat di dalam memperjuangkan pengolahan hutan kemenyan sebagai sumber penghasilan.

Usai ibadah warga yang menerima spirnitondi diajak untuk masuk ke dalam gedung gereja. Pengurus KN-LWF menyerahkan bantuan sebagai bentuk dukungan materil atas beban yang mereka tanggung.

Tatap Muka dengan Bupati Humbang Hasundutan

Pada malam harinya pukul 20.30 Wib  Pengurus KN-LWF beserta PGI D. Humbang Hasundutan bertatap muka dengan Bupati Humbang Hasundutan yang didampingi oleh Dinas Kehutanan, Bapak Silitonga dan Sekda Bapak S. Situmorang. Ketua KN-LWF Bapak Pdt. Langsung Sitorus menyampaikan keprihatinan gereja atas penderitaan masyarakat Pandumaan Sipituhuta. Beliau memohon agar Bupati turut mendamping masyarakat dalam upaya mencari keadilan. Bapak Bishop Pdt. Patut Sipahutar, M.Th  menyampaikan bahwa apa yang diperjuangkan oleh masyarakat Pandumaan-  Sipituhuta bukanlah sekedar  kepemilikan tanah, tetapi lebih dari itu  yaitu hak pengelolaan Hutan demi kemakmuran rakyat. Masyarakat  tersebut memperoleh penghasilan adalah dari hasil hutan yaitu kemenyan.

Bapak Bupati menyampaikan rasa terimakasih atas keikutsertaan gereja mendampingi masyarakat. Bapak Bupati juga menyatakan bahwa wewenang penetapan HPH/TI ada pada kementrian kehutanan. Bupati mengatakan bahwa permasalahan ini sudah disampaikan kepada kementerian kehutanan dan Bupati terbeban atas apa yang diderita oleh masyarakat Pandumaan Sipituhuta.  Bupati memohon kepada masyarakat Pandumaan-Sipituhuta untuk membuat riwayat tanah tersebut dengan menunjuk patok. Dengan adanya patok ini maka pemerintah akan menyampaikan hal tersebut kepada pemerintah pusat.  (humgu).
Source: Majalah Suara GKPI Edisi April 2013
Kantor Pusat - GKPI
Jl. Kapt Sitorus No. 13
Pematang Siantar, Sumatera Utara
Telp (0622) 22664
Fax (0622) 433625
HP 081370021990
E-mail KANTOR SINODE GKPI
kantorpusat-gkpi@indo.net.id;
gkpi-pms@indo.net.id
E-mail Majalah SUARA GKPI
           suaragkpi@yahoo.com
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Kalender Ulang Tahun
Tidak Ada Pendeta Yang Ulang Tahun Pada Periode Bulan Ini Atau Bulan Depan!
Gereja Kristen Protestan Indonesia
KANTOR SINODE WILAYAH I (MEDAN I, LANGKAT)
WILAYAH II (MEDAN II, DELI SERDANG) WILAYAH III (P.SIANTAR, SIMALUNGUN, TEBING TINGGI, SERGEI)
WILAYAH IV (DAIRI, TANAH KARO, ALAS, PAKPAK BARAT) WILAYAH V (ASAHAN, LABUHAN BATU)
WILAYAH VI (SILINDUNG, PAHAE, TAPSEL, TAPTENG) WILAYAH VII (HUMBANG, SAMOSIR, TOBA)
WILAYAH VIII (RIAU UTARA, RIAU SELATAN) WILAYAH IX (SUMATERA BAGIAN SELATAN)
WILAYAH X (KEPULAUAN RIAU) WILAYAH XI (JABODETABEK, JAWA, KALIMANTAN)
Video Galleri - GKPI
MARS GKPI
MARS GKPI Cipt. Bonar Gultom
PP GKPI Resort Khusus Kabanjahe
Mamre oh Mamre
GKPI TVRI 2/3
GKPI TVRI 3/3
GKPI TVRI 1/3
Renungan Hari Ini
21 Sep 2020
“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNyaselama Ia dekat” (Yesaya 55:6).
20 Sep 2020
“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 17:33).
Online Support
Administrator Administrator
This text will be replaced by the flash music player.
copyright ©2020 Gereja Kristen Protestan Indonesia
all rights reserved.