Cari Gereja Berdasarkan
No data available
Berita Selengkapnya - Gereja Kristen Protestan Indonesia
05 Mar 2013
Inilah Kisah Kami
Kami punya sedikit cerita. Kami, satu perempuan tujuh lelaki. Rou, Has, Jef, Hen, Jon, Mul, Sen, Jimm. Delapan orang muda (sebetulnya sepuluh orang muda, tapi dua lagi, Er dan Rud, sudah menyusul ke tujuan sebelum kami) diutus Kantor Pusat GKPI ke suatu tempat, yaitu daerah Sumbagsel, dengan misi tertentu. Tapi, bukan Mission Impossible. Melainkan, Mission Possible. Itulah, satu kata saja: melayani. Perjalanan kami itu dari Siantar ke Jambi. Meskipun kejadiannya pada bulan April 2012 yang silam, namun kami yakin, getar-getar maknanya kiranya masih bergema hingga saat ini dan di sini.
Maka, seperti orang bijak bersabda, “Apa artinya sebuah perjalanan jika di sepanjang jalan engkau menutup tirai jendelamu dan tidak menikmati pemandangan di luar sana”, begitulah, sebuah perjalanan bisa sekedar perjalanan tanpa makna, tetapi juga bisa amat bermakna. Kami pilih yang mana? Tentu, kami pilih yang terakhir. Sebab, justru di situlah bertaburan sari-sari makna yang membuka mata pemahaman kami terhadap arti melayani dan menjadi seorang pelayan. Inilah kisah kami, delapan orang muda pengikut Kristus, dalam memaknai perjalanan itu.

Bis AC PATAS. Di bangku tunggu terminal sebuah  Bis, Siantar, siang bolong. Kami sudah jemu menantikan kedatangan bis. Silih berganti bis yang datang, tapi bukan bis yang akan kami naiki. “Yang mana sih, bisnya? Lama amat?”, satu kawan agak geram. Akhirnya, sebuah bis datang. Aha! Itulah bis kami. Dengan gagah bis parkir di depan kami. Cemerlang, tampak dari luar. Di kaca depan, bertuliskan: AC PATAS. Mantap! Bukan main riang-gembira hati kami. Terlebih, ketika membayangkan betapa nyamannya berada di dalam bis AC PATAS. Asyik! Segera kami berlomba naik ke bis. Duduk di bangku masing-masing. Namun, di situlah kami sadar sambil melongo, bahwa fasilitas yang ada sungguh jauh dari yang diharapkan. Kesan interior bis? Ampun, kotor. Aroma yang berhembus?  Sumpek dan agak bau. Toilet? Mengerikan. Lubang AC di atas bangku? Memprihatinkan. Cantolan barang di sandaran bangku? Menghilang.

Pelajaran no. 1: Kemasan yang bagus tak selalu memperlihatkan isi yang bagus. Lalu, kami teringat akan Sabda Sang Guru, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Kami belajar, bahwa seorang pelayan haruslah mencerminkan karakter kemurnian, kebenaran, kebaikan, dan membuang segala kepura-puraan. Seorang pelayan tidak melayani dengan mengelabui orang, apalagi menyesatkan orang. Apa yang “di luar” diri harus mencerminkan apa yang “di dalam” diri. Dan bukankah sebetulnya apa yang “di dalam” diri itu pada dasarnya adalah kemurnian, kebenaran dan kebaikan yang datang dari Allah Pemurah? Kami belajar, bahwa apabila kita mampu menemukan kemurnian, kebenaran, dan kebaikan itu di dalam diri kita sendiri, maka itu semua akan terpancar dan terlihat jelas melalui sikap dan perbuatan kita. Kemasan yang bagus haruslah memperlihatkan isi yang bagus pula. Kami pelan-pelan merenunginya.

Supir Ngebut. Sepanjang perjalanan dari Siantar ke Jambi, tak habis-habisnya kami yang di dalam bis sport jantung. Bayangkan saja, beberapa kali hampir terjadi kecelakaan hanya karena si supir ngebutnya bukan main. Barangkali bagi dia ngebut itu sudah biasa, dan ia merasa nyaman akan itu. Namun, apakah pernah ia berpikir akan kecemasan dan ketakutan penumpang yang dibawanya? Ada anak-anak balita, ada orang-orang muda (belum pada kawin lagi...), dan ada orang-orang tua di dalam bis, apakah supir pernah merasakan ketidaknyamanan kami? Bagaimana mungkin supir bisa tidak peduli terhadap keselamatan penumpangnya?

Maka pelajaran no. 2: Jangan pernah membawa orang ke dalam kenyamanan yang palsu, yang sebetulnya adalah ketidaknyamanan, tetapi bawalah mereka ke dalam ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang sebenarnya. Atas kejadian itu, kami lalu mengingat kisah orang banyak yang mengikuti Sang Guru selama tiga hari, tetapi mereka kelaparan karena tidak punya makanan. Tetapi, tatkala melihat suasana ketidaknyamanan itu, Sang Guru berkata pada murid-murid-Nya, “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.” Dan kemudian, dari 7 roti yang ada, Sang Guru memberikan mereka makan sampai kenyang. Kami belajar, bahwa salah satu tanggungjawab seorang pelayan ialah membawa orang-orang bukan kepada kenyamanan yang palsu, melainkan kepada kenyamanan yang real, yang dapat dirasakan betul-betul khasiatnya oleh orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Kuncinya hanyalah belas kasihan. Ketika belas kasihan menguap, maka seorang pelayan akan menjadi egoistis dan individualistis.

Ganti Bis. Hari kedua tiba, siang-siang di tengah jalan provinsi Riau, bis yang kami naiki berhenti lesu. Menurut analisis supir dan kondektur, remnya ada kerusakan. Entahlah, barangkali karena bis terlalu ngebut dan asal labrak lobang di jalan-jalan yang kami lalui. Namun yang jelas, itu bisa terjadi karena segala perlengkapan tidak diperiksa terlebih dahulu sewaktu berangkat dari Siantar. Lama juga kami menunggu perbaikan. Daripada bosan menunggu ketidakpastian, kami minum teh dan main catur di warung seberang jalan. Namun, karena perbaikan membutuhkan waktu yang amat lama, maka semua penumpang pada akhirnya dioper ke bis lain, tetapi bukan AC PATAS, melainkan Bis Ekonomi. Kalau bis AC PATAS saja sudah nun jauh dari harapan, maka pembaca barangkali bisa membayangkan bagaimana suasana di dalam bis ekonomi itu. Kalaupun mau disebut ada AC-nya, yah, itulah angin dan debu yang keluar masuk dari sela-sela jendela-jendelanya. Oleh karena banyak barang ditumpuk di depan pintu toiletnya sehingga penumpang tidak bisa masuk ke toilet, alhasil barangsiapa yang ingin buang air haruslah dengan mata terpejam menahan berjam-jam kemudian, hingga bis ekonomi berhenti di sebuah rumah makan.

Pelajaran no. 3: Sedialah mantel sebelum tiba-tiba diguyur hujan. Cerita Sang Guru begitu jelas kami ingat, yaitu mengenai sepuluh gadis bodoh dan bijaksana yang menunggu kedatangan sang mempelai laki-laki sambil membawa pelitanya. Karena terlalu lama menunggu mempelai, pelita gadis-gadis bodoh hampir padam sebab lupa membawa minyak cadangan, sedang pelita gadis-gadis bijaksana terus menyala sebab mereka membawa minyak cadangan. Akhirnya, gadis-gadis bijaksanalah yang diterima di pesta jamuan itu. Sementara gadis-gadis bodoh kembali setelah membeli minyak untuk pelitanya, pintu sudah ditutup dan mereka tidak diperbolehkan masuk, dan tuan itu berkata, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.” Kami belajar, bahwa seorang pelayan tidak boleh lengah dalam kondisi dan situasi apapun yang sedang terjadi di sekitar pelayanannya. Untuk itu, ia harus memiliki visi, misi, dan strategi di dalam pelayanannya. Seorang pelayan tidak bingung dan linglung ketika suatu waktu orang-orang yang dilayaninya melenceng dari visi dan misinya, sebab ia memiliki strategi-strategi cadangan untuk mengatasinya. “Berjaga-jaga” bagi seorang pelayan ialah memahami bahwa antara harapan dan kenyataan terbentang jarak yang jauh. Namun, justru di situlah diperlukan ketelitian, kecermatan, ketidaklengahan, dan kesungguhan untuk selalu hadir di dalam setiap pergumulan-pergumulan hidup yang dihadapi orang-orang yang dilayaninya. Cermat terhadap tanda-tanda jaman, itulah salah satu karakter pelayan. Lagi, kami pelan-pelan merenunginya.

Penumpang di tengah jalan. Semenjak berangkat dari Siantar, Bis AC PATAS kami tadi kurang lebih berisikan setengah penumpang. Namun, di tengah jalan, tiap kali bis berhenti untuk mengangkut penumpang sampai bis menjadi penuh dan makin sumpek. Padahal, sebetulnya itu tidak boleh, bukan? Namun, begitulah pelayanan bis yang seringkali terjadi. Kesannya? Ya, si supir termasuk korupsi, sebab mengambil ‘uang masuk’ di tengah jalan. Akibatnya? Penumpang yang sudah membayar ongkos full dari Siantar akan merasa terganggu, terlebih karena waktu tiba ke tempat tujuan menjadi telat luar biasa.
Pelajaran no. 4: Jika ingin mantap berjalan, arahkan saja mata ke depan, dan jangan lirik kanan-kiri. Begitulah kami merenungkan kisah menarik di Injil, yaitu ketika pagi-pagi benar Sang Guru pergi ke tempat sunyi dan berdoa di sana, Simon dkk yang mencari-cari-Nya akhirnya menemukan-Nya dan berkata, “Semua orang mencari Engkau.” Tetapi, Sang Guru itu bukannya menuruti kata mereka, melainkan menjawab, “Marilah kita pergi ke tempat lain... supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Kami merenungkan, bahwa betapa pentingnya sebuah prioritas. Tanpa prioritas, seorang pelayan akan melenceng dari panggilannya. Ketika melayani, tentunya pasti banyak godaan agar kita mengingkari panggilan menjadi seorang pelayan Kristus. Jika mata kita tergoda untuk melirik ke kanan dan ke kiri, niscaya tujuan kita tak kesampaian. Jika melayani, hendaklah mata kita hanya tertuju kepada Kristus sebagai prioritas yang terutama. Kami merenung dan berdoa, semoga mata kami bisa selalu terpesona pada Kristus, Sang Guru.

Senang Jadi Pelayan?

Demikianlah, apabila melihat butir-butir hasil permenungan di atas, memang, amatlah berat membayangkan makna dan tugas seorang pelayan. Dalam dunia dimana orang-orang kebanyakan meminati kegelapan dan membenci terang Kristus, justru ke situlah kita disuruh-Nya membawa terang. Adakah resiko? Sudah pasti! Namun, keyakinan kita berkata: bahwa bahkan sedetik pun, Kristus takkan pernah meninggalkan kita! Terkadang, kita mesti bersedia terus-menerus membuka mata batin, melihat Kristus, Sang Guru, hadir di tengah orang-orang, di tempat kita melayani. Kristus memanggil, dan kita menyahut panggilan-Nya. Inilah kisah kami, dan semoga menjadi kisah kita bersama. Dan oleh karena menjadi kisah kita bersama, maka bukan dari Siantar ke Jambi saja, melainkan “dari mana dan ke mana” Kristus membawa kita dalam sebuah perjalanan, semoga kita tetap setia mengikuti-Nya. Kita yakin, perjalanan itu, meski kadang menimbulkan ketidaknyamanan bagi kita, namun yang pasti justru di situlah perjalanan itu bermakna! Ya, It is very nice, if we want to walk with Christ Jesus.
Suatu waktu, Sang Guru akan bertanya kepada kita, “Hai, sahabat-Ku, apakah engkau senang menjadi pelayan-Ku?”. Kita pun segera menjawab, “Saya amat senang, Kristus!”. Ia kembali bertanya, “Mengapa?”. Lalu kita pun dengan sigap dan bersukacita menjawab, “Karena Engkau telah terlebih dahulu melayani kami... karena sebelum kami memberikan diri kami kepada-Mu, Engkau telah terlebih dahulu memberikan diri-Mu kepada kami.” ***

*) Jimmy Simangunsong adalah vikaris, intensif melayani di GKPI Lubuk Mandarsah, Pademan, dan Muara Jelapang (Resort Bukit Sion, Muara Bungo, Provinsi Jambi).
Source: Majalah Suara GKPI Edisi Februari 2013
Kantor Pusat - GKPI
Jl. Kapt Sitorus No. 13
Pematang Siantar, Sumatera Utara
Telp (0622) 22664
Fax (0622) 433625
HP 081370021990
E-mail KANTOR SINODE GKPI
kantorpusat-gkpi@indo.net.id;
gkpi-pms@indo.net.id
E-mail Majalah SUARA GKPI
           suaragkpi@yahoo.com
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Kalender Ulang Tahun
Tidak Ada Pendeta Yang Ulang Tahun Pada Periode Bulan Ini Atau Bulan Depan!
Gereja Kristen Protestan Indonesia
KANTOR SINODE WILAYAH I (MEDAN I, LANGKAT)
WILAYAH II (MEDAN II, DELI SERDANG) WILAYAH III (P.SIANTAR, SIMALUNGUN, TEBING TINGGI, SERGEI)
WILAYAH IV (DAIRI, TANAH KARO, ALAS, PAKPAK BARAT) WILAYAH V (ASAHAN, LABUHAN BATU)
WILAYAH VI (SILINDUNG, PAHAE, TAPSEL, TAPTENG) WILAYAH VII (HUMBANG, SAMOSIR, TOBA)
WILAYAH VIII (RIAU UTARA, RIAU SELATAN) WILAYAH IX (SUMATERA BAGIAN SELATAN)
WILAYAH X (KEPULAUAN RIAU) WILAYAH XI (JABODETABEK, JAWA, KALIMANTAN)
Video Galleri - GKPI
MARS GKPI
MARS GKPI Cipt. Bonar Gultom
PP GKPI Resort Khusus Kabanjahe
Mamre oh Mamre
GKPI TVRI 2/3
GKPI TVRI 3/3
GKPI TVRI 1/3
Renungan Hari Ini
21 Sep 2020
“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNyaselama Ia dekat” (Yesaya 55:6).
20 Sep 2020
“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 17:33).
Online Support
Administrator Administrator
This text will be replaced by the flash music player.
copyright ©2020 Gereja Kristen Protestan Indonesia
all rights reserved.