Cari Gereja Berdasarkan
No data available
Berita Selengkapnya - Gereja Kristen Protestan Indonesia
30 Mei 2012
Sudah banyak tulisan dan buku yang membahas apa makna “persembahan” di tengah-tengah kehidupan ibadah orang Kristen. Namun pasti tidak semua warga jemaat memiliki dan membaca buku-buku yang berhubungan dengan makna persembahan tersebut. Ada fakta lain di dalam kehidupan warga jemaat GKPI, masih banyak yang belum memahami makna sesungguhnya dari persembahan yang diberikan ke tengah-tengah gereja. Bahkan bagaimana mempersiapkan persembahan yang seharusnya akan diberikan kepada Allah melalui gereja-pun sepertinya tidak dimengerti.
Lihatlah persembahan-persembahan yang dikumpulkan, lebih banyak yang sebenarnya membuat kita geleng kepala dan tersenyum penuh makna.
Biarlah melalui tulisan yang sederhana dan singkat ini, warga jemaat akan semakin menyadari makna persembahan yang diberikan, dan merubah cara kita mempersiapkan dan memberinya. Sehingga kita semakin berbuahkan kebenaran Firman Tuhan di dalam Kolose 2:7 “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Persembahan di dalam Perjanjian Lama
    Persembahan di mulai pertama sekali oleh Abram (Abraham), ketika ia mempersembahan sepersepuluh dari harta yang dimiliki walaupun bukan langsung kepada Allah. Hal tersebut tertulis dalam Kejadian 14:20 “dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.”             Kemudian oleh Yakub dalam kitab Kejadian 28:20-22 “Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu."
Secara keagamaan, Allah melalui hambaNya Musa memberikan berbagai peraturan tentang bentuk persembahan di dalam Kitab Imamat. Ada terdapat beberapa jenis persembahan yang diaturkan antara lain yaitu :
1.Persembahan Syukur (berupa ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba. persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela, dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela. korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati. Persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya. Korban sajian dari apa yang dibakar di dalam pembakaran roti, haruslah itu dari tepung yang terbaik, berupa roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak. Korban sajian dari yang dipanggang di atas panggangan, haruslah itu dari tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, berupa roti yang tidak beragi. Korban sajian dari yang dimasak di dalam wajan, haruslah itu diolah dari tepung yang terbaik bersama-sama minyak.
 2. Persembahan Keselamatan (persembahannya merupakan korban keselamatan, maka jikalau yang dipersembahkannya itu dari lembu, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia membawa yang tidak bercela ke hadapan TUHAN; korban keselamatan bagi TUHAN adalah dari kambing domba, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia mempersembahkan yang tidak bercela.
3.Persembahan Penghapus Dosa (haruslah ia membawa sebagai persembahannya seekor kambing jantan yang tidak bercela.haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosa yang telah diperbuatnya itu seekor kambing betina yang tidak bercela.Tetapi jikalau ia tidak mampu menyediakan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, maka haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosanya itu sepersepuluh efa tepung yang terbaik menjadi korban penghapus dosa. (Imamat 1:2-14; 2:1-13; 3:1-14; 4-6)
Imamat  7:37-38 : “Itulah hukum tentang korban bakaran, korban sajian, korban penghapus dosa, korban penebus salah, persembahan pentahbisan dan korban keselamatan, yang diperintahkan TUHAN kepada Musa di atas gunung Sinai pada hari TUHAN memerintahkan kepada orang Israel mempersembahkan persembahan mereka kepada TUHAN di padang gurun Sinai. Selain itu ada persembahan khusus, hasil pertama dari tanah dan pohon buah, kemudian persembahan persepuluhan (bnd. Nehemia 12:44).
Terdapat nilai-nilai : Memberikan yang terbaik , tidak terpaksa melainkan penuh dengan syukur, keadilan sosial (tidak sama orang yang mampu dengan yang tidak mampu/kaya-miskin).

Persembahan Di Dalam Perjanjian Baru
    Persembahan dalam Perjanjian Baru muncul pertama sekali pada peristiwa kelahiran Yesus Kristus, dimana orang-orang majus memberikan persembahan, Matius 2:11 “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Nyata dengan jelas, bahwa persembahan telah dipersiapkan jauh-jauh hari, apakah mereka menemukan bayi Yesus atau tidak itu belum pasti, namun pengetahuan dan kepercayaan mereka akan menemukanNya ternyata lebih kuat. Nah disanalah definisi tentang iman dibuktikan yaitu : “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1).
    Ada lima hal mengapa kita harus memberikan persembahan kepada Tuhan :
1.Karena Perintah langsung dari Allah, jika kita mengasihi Allah maka dengan sendirinya kita akan melakukan segala perintahNya. (Matius 22:37, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”) Perintah langsung sebagaimana tertulis dalam Maleakhi 3:10. Demikian juga di dalam 1 Korintus 16:2 “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing -- sesuai dengan apa yang kamu peroleh -- menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. Dimana Rasul Paulus mengadakan persembahan untuk membantu orang-orang kudus (pelayan-pelayan Tuhan). Mempersiapkan persembahan pada jauh-jauh hari untuk kebutuhan pelayanan (Gereja).
2.Memberi Dengan Kejujuran, apa yang seharusnya diberikan kepada Allah berikanlah dan jangan pernah mencari-cari alasan lain. Berikanlah dengan sukacita bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati. Mengambil yang bukan bagian dari miliki kita akan mendatangkan hukuman, perhatikan hidup dari anak-anak Imam Harun dan ingatkah kita kisah tentang suami-istri yang tidak jujur di dalam Kisah 5 (Ananias dan Safira) yang mati karena tidak mempersembahkan apa yang seharusnya ?
3.Sebagai wujud Kasih kita kepada Allah, seorang pemuda berkata kepada seorang pemudi “aku mengasihimu/aku mencintaimu” namun tidak pernah sekalipun ia mewujudkan kata kasihnya tersebut. Untuk pemuda seperti itu biasanya diberi gelar “penggombal”. Apakah kita mau disebut sebagai “Orang Kristen Penggombal” atau NATO (No Action Talk Only) omong doang gede. Allah tidak hanya omong doang, ia buktikan toh, mau buktinya baca Yoh.3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal...”
4.Ungkapan Rasa Berterimakasih, semua yang dipersembahkan tidak akan pernah cukup untuk melunasi semua kebaikan Tuhan yang diterima. Tidak ternilai oleh harta apapun yang dimiliki oleh orang percaya. Allah memberikan AnakNya sebagai Juruselamat seluruh umat manusia, saya dan engkau, mengampuni dan memberi kehidupan kekal selamanya. Apakah hal tersebut tidak begitu berharga ?
5.Sebagai bukti/buah dari Iman, apa bukti dari seseorang percaya kepada orang lain, pada masa ini kepercayaan adalah modal dalam pergaulan. Karena dapat dipercayai banyak tugas dan tanggung jawab diberikan oleh yang mempercayainya. Demikian juga seorang pemudi yang mempercayai bahwa sang pemuda impiannya dapat dipercayai untuk mencintai dan menjaganya seumur hidup. Namun semuanya harus dibuktikan dan diwujudnyatakan, karena percaya atau iman adalah yang tidak nyata (abstrak). Lalu bagaimana untuk merealisasikan/menyatakannya agar dapat dilihat nyata. Tentu dengan sebuah tindakan yang nyata, benar-benar terlihat, tidak hanya sekedar angan-angan. Demikian pula halnya jika kita berkata “aku mengasihi dan mencintaiMu ya Allah” sampai disitu masih abstrak (tidak nyata). Dalam kitab Amsal 3:9-10 “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”
Bukti dari kepercayaan kita kepada Allah adalah dari “harta” dan “hasil pertama”, hal ini mau mengatakan bahwa yang terpenting dan sangat berharga serta yang terutama dari yang dimiliki haruslah diberikan kepada Allah.
Rasul Paulus dalam 2 Korintus 8 dan 9 mengembangkan sepuluh prinsip persembahan Kristen, yaitu :
1.Persembahan Kristen adalah suatu ungkapan rahmat Allah (2 Kor.8:1-6).
2.Persembahan Kristen dapat menjadi suatu kharisma, yaitu karunia Roh Kudus (2 Kor. 8:7).
3.Persembahan Kristen diilhami oleh salib Kristus (2 Kor.8:8-9).
4.Persembahan Kristen adalah persembahan yang proporsional (2 or.8:10-12).
5.Persembahan Kristen menyumbang pada kesetaraan (2 Kor.8:13-15).
6.Persembahan Kristen harus diawasi secara teliti (2 Kor.8:16-24).
7.Persembahan Kristen dapat dibangkitkan dengan sedikit persaingan sehat (2 Kor. 9:1-5).
8.Persembahan Kristen menyerupai tuaian (2 Kor. 9:6-11a).
9.Persembahan Kristen memiliki makna simbolis (2 Kor 9:13).
10.Persembahan Kristen menyuburkan ucapan syukur kepada  Tuhan (2 Kor.9:11b-15)
    Masih banyak Firman Tuhan di dalam Perjanjian Baru yang menjelaskan tentang Persembahan di tengah-tengah kehidupan orang-orang Kristen mula-mula. Namun biarlah melalui beberapa penjelasan di atas dapat menambah wawasan dan pengetahuan warga jemaat menyangkut persembahan.

Renungan
Bagaimana persembahan dalam kehidupan orang Kristen Batak dan khususnya warga gereja saat ini ? Mari kita lihat cara dan pola yang terus menerus sudah dilakukan selama ini dalam kehidupan gereja. Dahulu di gereja “Batak” ada pesta gotilon, yang sekarang sudah kurang terdengar dan dilakukan. Memberikan persembahan berupa hasil ladang, biasanya adalah padi/gabah. Karena pada umumnya orang batak waktu itu mayoritas bersawah/berladang. Kenapa “gotilon” karena sewaktu memanen dipetik seperti manggotil atau “mencubit”, mungkin waktu itu belum ada alat “anai-anai” yang jika dipakai persis memang seperti sedang mencubit atau “manggotil”. Orang yang mencubit pasti bagian tertentu dan tidak seluruh tubuh temannya, melainkan sedikit. Apakah karena istilah ini akhirnya ketika pesta gotilon yang dipersembahkan juga menjadi sedikit, saya kurang tahu. Tetapi pengalaman saya di sebuah tempat pelayanan, ketika mengadakan pesta gotilon, bukan hasil pertama dari ladang yang dibawa, melainkan hasil panen tahun lalu dan itupun sedikit. Ada terjadi pergeseran dari pelaksanaan yang bertahun-tahun seperti itu yang akhirnya menjadi pola/gaya beriman statis dan permanen. Sangat disayangkan hal tersebut akhirnya menular kepada generasi penerus gereja batak.
Coba perhatikan lagi, ketika memberi persembahan yang sudah nilainya kecil itupun tidak dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan dengan kondisi persembahan kurang baik, diremas-remas, bahkan kumal dan berkesan kotor. Namun ketika akan mengadakan pesta sukacita dan dukacita dalam adat batak, jauh-jauh hari ia berangkat ke bank untuk melakukan penukaran uang pecahan dengan kondisi yang baik dimintanya kepada petugas bank yang bersangkutan. Tragis sekali, ia lebih menghormati dan mengasihi manusia daripada Tuhannya sendiri, sedih dan sangat menyedihkan.
Mengertikah warga jemaat dengan persembahan yang diberikannya di tengah-tengah ibadah ? Atau persembahan yang diberikan hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak pernah benar-benar dari pemahaman yang benar dari buah Imannya kepada Tuhan Yesus Kristus.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Jhon Stott dalam bukunya “The Living Church” (Gereja Yang Hidup) bahwa persembahan kita adalah ungkapan pemahaman/kepercayaan kepada Allah. Bila kita memberikan persembahan kepada usaha-usaha Pekabaran Injil (evangelisasi), kita sedang mengungkapkan kepercayaan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, dan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mendengarkan “Injil” tersebut.
Oleh sebab itu jika GKPI dalam tahun ini menetapkan Tahun Pekabaran Injil dan adanya wacana untuk membentuk “Komunitas Cinta Pekabaran Injil” dimana komunitas ini akan mengadakan pengumpulan dana untuk PI, maka marilah semua warga jemaat dan pelayan untuk mendukungnya dalam persembahan.
Bilamana kita memberi persembahan untuk tujuan pembangunan ekonomi, maka sebenarnya kita sedang mengungkapkan kepercayaan (Iman) kita bahwa setiap orang, laki-laki, perempuan, dan anak-anak adalah citra Allah dan tidak boleh terpaksa hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi.
Inilah peranan Injil yang memberi kekuatan (Injil Penguatan) sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Bishop GKPI “Injil Penguatan (pemberdayaan) adalah agar setiap umat dapat menikmati hidup bersama, layak, persekutuan dengan semua orang.
Masih banyak tugas pelayanan gereja GKPI saat ini yang belum mampu dilakukan, karena selama ini persembahan yang dikumpulkan belum di tata kelola dengan baik sesuai maksud sebenarnya. Bahkan ada keengganan untuk mengumpulkan persembahan jika peruntukkannya ke Kantor Pusat. Seolah-olah ada pemahaman persembahan tersebut hanya akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang ada di Kantor Pusat saja. Bagaimana pelayanan GKPI semakin meluaskan “Kerajaan Allah” untuk kejayaan kerajaan’Mu di tengah gereja’Mu di seluruh dunia ini ? Bukankah hal tersebut senantiasa di dengungkan dalam doa persembahan, dimana sebenarnya Kerajaan Allah yang sedang kita perluas ?
Hal berikut dari persembahan kita adalah : pemberian kita untuk pendewasaan gereja. Dengan demikian sebenarnya kita sedang mengakui bahwa gereja merupakan pusat rencana dan kehendak Tuhan agar semakin dewasa. Persembahan yang diberikan akan dipakai untuk berbagai pelayanan dan pekerjaan agar gereja semakin dewasa, warga jemaat semakin bertumbuh iman, kasih dan pengharapannya. Tentulah memerlukan dukungan pendanaan dalam melakukan berbagai program-program untuk pendewasaan tersebut. Disinilah peranan dan nilai dari persembahan yang diberikan oleh warga jemaat.
Bilamanakah seseorang yang memiliki uang menikmati apa yang dimilikinya tersebut ? Apakah bermakna uang yang banyak jika kita tidak dapat menikmatinya, atau tetap tersimpan di dalam dompet dan tabungan/deposito ? Belum dapat dikatakan bahwa kita sudah menikmati apa yang menjadi milik kita tersebut. Semakin banyak uang yang diberikan kepada orang lain, disanalah kita menikmati nilai dari uang tersebut.
Dengan demikian bahwa : semakin besar jumlah pemberian yang dipersembahkan, semakin besar pula kesempatan untuk kita melayankan “Pemberitaan Injil”, “menolong orang lain” dan “gereja-warga jemaat semakin dewasa imannya”. Melepaskan lebih banyak uang yang telah Dia percayakan kepada kita, memperbesar ucapan syukur kepada Tuhan.
Persembahan kita juga bernilai “Oikumene” dan dalam rangka mewujudkan kesatuan tubuh Kristus (1 Kor. 12). Persembahan kita mempersatukan setiap orang percaya di tengah-tengah gereja, milik pribadi menjadi milik bersama-sama, milik GKPI di kota besar hingga desa-desa menjadi milik bersama di dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai “Gembala Agung” GKPI.
Selamat Menyembah dan Mempersembahkan “Ucapan Syukur” mu demi pelayanan GKPI yang lebih baik, maju dan jaya dalam memperluas kerajaanNya melalui Pekabaran Injil !


(Oleh : Pdt.Sahala Sitompul,M.Div)
GKPI Res.Khusus Griya Martubung-Medan,

Source: Majalah Suara GKPI Edisi Mei 2012
Kantor Pusat - GKPI
Jl. Kapt Sitorus No. 13
Pematang Siantar, Sumatera Utara
Telp (0622) 22664
Fax (0622) 433625
HP 081370021990
E-mail KANTOR SINODE GKPI
kantorpusat-gkpi@indo.net.id;
gkpi-pms@indo.net.id
E-mail. Web. infokom@gkpi.or.id
E-mail Majalah SUARA GKPI
           suaragkpi@yahoo.com
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Kalender Ulang Tahun
Selamat Ulang Tahun kepada:
Gereja Kristen Protestan Indonesia
KANTOR SINODE Wilayah Medan I
Wilayah Siantar Simalungun Wilayah Asahan
Wilayah Tanah Karo/Alas Wilayah Dairi
Wilayah Samosir Wilayah Toba
Wilayah Humbang Wilayah Silindung
Wilayah Tapanuli Tengah Wilayah Sumatra Bagian Selatan
Wilayah Riau Utara Wilayah Jabotabek
Wilayah Jawa Kalimantan Wilayah Deli Serdang
Wilayah Labuhan Batu Wilayah Kepulauan Riau
Wilayah Pahae Wilayah Tapanuli Selatan
Wilayah Langkat Wilayah Medan II
Wilayah Tebing Tinggi Wilayah Riau Selatan
Lembaga
Video Galleri - GKPI
Seksi Pria GKPI Jemaat Pondok Timur, Resort Bekasi
MARS GKPI Cipt. Bonar Gultom
PP GKPI Resort Khusus Kabanjahe
Mamre oh Mamre
Vitor Hutabarat dalam acara Penahbisan Pendeta dan Evangelish di GKPI Air Bersih tgl 6 Mei
Vocal Group Pria GKPI Resort Teladan
GKPI TVRI 2/3
GKPI TVRI 3/3
GKPI TVRI 1/3
Paduan Suara Asa Taruli sie Perempuan GKPI Tangerang
Gita Sorga Bergema - Paduan Suara GKPI Tangerang
Renungan Hari Ini
22 Apr 2014
Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar. (2 Timotius 2:24)
21 Apr 2014
Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15).
Online Support
Administrator Administrator
This text will be replaced by the flash music player.
copyright ©2014 Gereja Kristen Protestan Indonesia
all rights reserved.