Cari Gereja Berdasarkan
No data available
Berita Selengkapnya - Gereja Kristen Protestan Indonesia
10 Jan 2017
Pendahuluan
Kita patut bersyukur kepada Allah Bapa di Sorga atas pimpinan dan tuntunan-Nya sehingga GKPI dapat memasuki Tahun 2017 sebagai  tahun rahmat Tuhan bagi kita. Sebagaimana kita ketahui bersama Tahun 2017 adalah Tahun Formasi Spriritual  bagi GKPI sebagaimana telah digariskan dalam Rencana Strategis (Renstra) GKPI 2015-2030. Tahap pertama dalam Renstra tersebut adalah Tahab Konsolidasi yaitu periode 2015-2020. Untuk tahun pertama 2016 yaitu tahun pembenahan organisasi dan staff telah kita lalui dengan baik, dan kini kita memasuki tahun 2017: Tahun Formasi Spiritual.

Dalam rangka mensukseskan Tahun Formasi Spiritual GKPI – 2017 Pimpinan Sinode GKPI telah menyusun program kerja pelayanan GKPI tahun 2017 yang didasarkan kepada Renstra GKPI 2015-2030, Road Map Rentra GKPI 2015-2020 dan yang telah disahkan pada Sidang Majelis Sinode ke-III,  pada tanggal 21-23 Nopember 2016,  di Aula Sikhem, Mamre, Pematangsiantar. Program Kerja/Kegiatan yang telah disahkan tersebut meliputi program/kegiatan yang akan dilakukan mulai dari aras Jemaat, Resort, Wilayah dan Sinode GKPI.
 
I.    Penjelasan Tahun Formasi Spiritual GKPI - 2017
Tahun Formasi Spiritual adalah tahun di mana GKPI akan membangun dan mengembangkan hubungan spiritual (rohani) dengan Tuhan yang dinampakkan dan direfleksikan dalam hubungan dengan sesama melalui aksi atau tindakan nyata. Formasi Spiritual adalah sebuah bentuk hubungan dengan Tuhan yang dilakukan melalui disiplin rohani baik secara personal maupun komunal. Formasi Spiritual merupakan sebuah jalan/sarana untuk merespons kasih karunia dan anugerah  Allah dalam hidup orang-orang percaya melalui karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib. Karena itu formasi spiritual tidak hanya menyangkut disiplin spiritual (seperti: doa, pujian, persembahan, mendengar firman, puasa) tetapi juga melalui tindakan nyata atau  kasih kepada sesama dan ciptaan lainnya. Dalam rangka merespons kasih karunia dan anugerah Allah tersebut, GKPI  telah merumuskan Formasi Spiritual 2017  sebagaimana termaktub dalam Road Map Renstra GKPI 2015-2020, yaitu:
1.    Formasi Spiritual Individu
    Disiplin Berpuasa
Disiplin berpuasa bertujuan untuk memiliki sikap kerendahan hati di hadapan Tuhan bahwa kita tidak mampu melakukan kehendak-Nya tanpa tergantung kepada-Nya.
    Disiplin Bersaksi
Disiplin bersaksi adalah amanat Agung untuk semua orang percaya (Mat. 28 : 19 – 20).
    Disiplin Beribadah
Disiplin beribadah adalah perintah dalam Alkitab.
    Disiplin Ketaatan kepada Otoritas
Yesus selama di dunia sebagai manusia yang senantiasa taat dan setia sampai mati melakukan kehendak BapaNya. Tuntutan itu juga diberikan kepada kita. Warga Jemaat GKPI harus berdisiplin taat kepada otoritas karena kelemahan ini seringkali menjadi penyebab kehidupan spiritual menjadi lemah dan godaan-godaan tidak mudah dipatahkan. Tuhan Yesus adalah otoritas tertinggi yang harus ditaati melalui Firman Tuhan dan hamba-hamba-Nya.
    Disiplin Penderitaan
Disiplin penderitaan seharusnya menjadi bagian dalam kehidupan orang percaya yang mau menderita seperti Yesus, tetapi yang terjadi adalah kita malah menghindari penderitaan.

2.    Formasi rohani dalam Jemaat
    Disiplin Bersaksi
Setiap orang percaya wajib bersaksi dimana pun ia berada dan tidak peduli apakah ia seorang pendeta maupun orang awam.
    Disiplin Melayani
Jemaat yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan tentunya akan melayani Tuhan dan sesamanya. Jemaat harus diajarkan untuk terbeban melayani.

    Disiplin Penyembahan
Penyembahan ditujukan kepada Allah dengan tujuan untuk menyenangkan Dia yang layak menerima segala pujian dan hormat.
    Disiplin Pemuridan
Gereja yang sehat memiliki program pemuridan yang bertujuan regenerasi gereja di masa yang akan datang. Pemuridan bagi Jemaat untuk mencegah masuknya pengajaran-pengajaran sesat dan memperlengkapi Jemaat dalam pelayanan.
    Disiplin Ibadah
Disiplin ibadah bertujuan untuk melatih diri untuk beribadah kepada Tuhan. Jiwa manusia tidak mau beribadah namun roh manusia yang telah dilahir-barukan Roh Kudus merindukan hal tersebut.

3.    Pemahaman Spiritualitas
    Terarah pada Tuhan
Hidup manusia yang terarah pada Tuhan Allah akan mempengaruhi dan memberi warna serta dampak positif bagi hubungan dirinya dengan sesamanya, dunia dan alam lingkungannya. Ia bukan sebagai faktor yang merusak, tetapi menjadi faktor pembawa hal-hal baik bagi mereka. Karena nilai-nilai yang dia dapatkan dari hubungan dan keterarahan dengan Allah, kini dibawa dan dihadirkannya dalam seluruh aspek hidupnya.

    Kekuatan menyembuhkan, menyeimbangkan, dan menghidupkan
Spiritualitas adalah suatu fungsi yang mengetahui dan menyembuhkan “hidup batiniah” dan memberikan keseimbangan kepada kekuatan dari hidup itu. Hubungan keduanya sangat erat dan terjalin kuat. Hidup batiniah disebut juga dengan “jiwa” yang tidak kelihatan, tetapi fungsinya sangat penting. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah suatu fungsi menyembuhkan dan menghidupkan “jiwa” serta memberikan keseimbangan pada kekuatan “jiwa” supaya manusia hidup sehat secara jasmani dan rohani, sesuai dengan kehendak Allah. Agama harus  membimbing orang untuk mengetahui hidup batiniah ini secara lebih mendalam dan mengajar cara bergaul dengan hidup batiniah itu sendiri.

    Api yang memanaskan dan menghangatkan
Sejak orang berjumpa Kristus, ia lalu bertobat, maka ia secara drastis dan radikal memutuskan dan membuang serta meninggalkan hidup lamanya. Lalu berbalik 180 derajat, berjalan ke arah Tuhan. Kemudian ia secara sadar terus memelihara bahkan mengembangkan dirinya yang baru itu. Caranya, terus mempertahankan panas “api” yang menyala, takala ia mengalami perjumpaan dengan Kristus. Panas “api” itulah spiritualitas.

    Kristus hidup di dalam Aku
Pengalaman spiritualitas Paulus, “Aku hidup, namun bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku,” (Gal. 2:20). Karena Kristus yang hadir dan hidup serta berkuasa, memerintah dalam hidupnya, maka hidupnya berubah menjadi baru dan baik. Hidupnya tidak lagi mementingkan dirinya sendiri, tetapi berguna dan bermanfaat bagi orang lain dan bagi kemuliaan Tuhan. Seluruh potensi dirinya dikendalikan, digerakkan, di pengaruhi oleh kehadiran Kristus yang berkuasa dan memerintah dalam hidupnya.

    Pertobatan dan Pengampunan
Jika kita mengakui dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita,” (I Yoh. 1:9). Inilah yang terjadi pada diri kita, bila kita telah mengakui dosa kita. Yakinlah bahwa janji Tuhan ini benar. Jangan pernah ragu. Ketika segala dosa telah diakui, yakinlah bahwa hidup kita sudah bersih. Untuk itu kita perlu bertobat, yakni berpaling dan berbalik dari jalan lama, kepada jalan baru dalam Tuhan. Kalau dulu berjalan membelakangi Tuhan, sekarang berjalan menghadap dan menghampiri Tuhan. Kalau dulu berjalan menjauhi Tuhan, sekarang berjalan mendekat kepada Tuhan. Juga membuang dan meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa, lalu mulai melakukan perbuatan-perbuatan yang baru dalam Tuhan. Sebab, “Kamu harus menanggalkan manusia yang lama…dan mengenakan manusia yang baru,” (Ep. 4:22b, 24a). Kalau orang sudah sadar akan dosanya, mengakui dosanya, kemudian bertobat dari segala dosanya, maka, sekarang ia perlu juga percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dirinya. Oleh karena, “Jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu…maka kamu akan diselamatkan. Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Barangsiapa percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan,” (Roma 10:9, 10, 11). Pertobatan membawa orang pada dosanya dihapuskan; ia akan mengalami kehidupan yang bersumber dari Tuhan.

    Melakukan Perbuatan Kasih
Pertumbuhan dan perkembangan spiritualitas juga terjadi karena langkah hidup yang saling mengasihi. Lagi pula, “Lebih berbahagia memberi dari pada menerima,” (Kis. 20:35). “Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman,” (Gal. 6:10). “Jangan menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya,” (Ams. 3:27).

4.    Pentingnya Spiritualitas
    Manusia tidak hanya hidup dari roti
Roti, nasi, dan segala kebutuhan jasmani, penting bagi manusia. Tetapi Firman Allah juga penting bagi manusia. Firman Allah merupakan makanan rohani (spiritualitas) baginya. Tanpa mengenyangkan diri dengan Firman Allah, maka manusia akan lapar dan dahaga spiritualitasnya. Kalau ia lapar dan dahaga, maka ia akan lemah, loyo, tidak memiliki kekuatan dan tenaga untuk bekerja, melayani dan berjuang melawan kekuatan gelap. Pemimpin yang perkasa, kuat dan tangguh dalam berkarya dan melawan berbagai godaan dan tekanan kuasa gelap, adalah pemimpin yang selalu mengenyangkan dirinya dengan Firman Allah. Kalau dia kenyang, maka ia memiliki tenaga dan kekuatan, dari Tuhan tentunya, untuk berjuang.

    Sabda adalah pelita hidup
Sabda Tuhan merupakan pelita yang mampu dan berkuasa memberi terang bagi jalan dan perjalanan hidup kita. Kita tidak hanya membutuhkannya pada saat duka, tetapi juga dalam suka. Dengan Sabda Tuhan, hati, pikiran dan hidup kita diteranginya. Sehingga kita tahu dan mengerti mana jalan yang akan kita pilih, kita lalui dan kita jalani. Tanpa pelita Firman Tuhan, maka kita dapat tersesat dalam perjalanan hidup kita. Dunia ini ibarat belantara yang amat lebat, kita tidak tahu arah yang jelas kemana dan dimana kita berada. Akan tetapi, dengan Sabda Tuhan, maka kita tahu siapa kita, dimana kita, kemana kita dan dengan apa kita ke sana.

    Sarana mengenal kehendak Tuhan
Manusia adalah makhluk yang berpikir dan belajar, maka salah satu kesukaan dalam belajarnya, manusia suka meniru. Meniru ini terjadi dan dilakukannya dalam sebagian besar hidupnya. Nah, agar sikap dan perilaku manusia semakin dekat dan bahkan menjadi gambar serta citra Allah, maka manusia perlu mengalami sebuah proses pembaharuan akal budinya. Proses pembaharuan akal budi manusia terjadi ketika ia berjumpa dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya. Ketika pembaharuan akal budi terjadi, maka kepadanya diberikan satu kemampuan, yakni kemampuan untuk mengenal kehendak Allah, apa yang berkenan kepadaNya, dan apa yang tidak berkenan kepadaNya. Selanjutnya, dengan kuasa, kekuatan dan pertolongan Roh Kudus, ia didorong memilih dan melakukan yang baik, benar dan berkenan kepada Tuhan.


    Membentuk Karakter Kristiani
Hal-hal yang biasanya berperan besar dalam membentuk karakter seseorang antara lain :
•    Pengalaman pribadi. Sebuah pengalaman yang amat terkesan, mendalam, menyakitkan atau menyenangkan, akan membekas dan tertoreh amat kuat dalam hati seseorang. Apalagi bila pengalaman itu sampai melibatkan dan menguras emosinya. Lalu terjadi berulang-ulang. Maka pengalaman itu akan ikut membentuk karakternya. Cara dia merespon orang lain akan dipengaruhi pengalamannya itu.
•    Budaya. Seseorang hidup dan bertumbuh dari anak, remaja, pemuda, dewasa dan lanjut usia, ada dalam tradisi, nilai-nilai dan budaya tertentu. Segala hal yang dilihat, didengar, dialami, interaksi dan responnya terhadap tradisi, nilai dan budaya di lingkungannya akan membentuk kehidupan dirinya.
•    Orang yang dianggap penting. Mereka ini dapat terdiri dari orangtua, suami-isteri, anak-anak, pemimpin atau atasan, orang yang statusnya lebih tinggi, teman kerja/dekat/gaul, guru dan rohaniawan.
•    Pendidikan. Segala macam model dan proses pendidikan yang dialami dan dijalaninya akan ikut membawa perubahan dan perkembangan diri dan hidupnya. Maju dan mundurnya, serta berkembang tidak berkembangnya seseorang bergantung pada sejauh mana proses pembelajaran dilakukannya bagi dirinya.
•    Agama. Karakter yang baik, benar dan sejati bagi mereka adalah karakter yang dilandasi ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang diterimanya dari ajaran agamanya. Karakter yang dibentuk dari ajaran agama merupakan kekuatan pengaruh paling kuat dan besar, sebab ia menyangkut hal-hal yang baik, benar, kudus, keselamatan sekarang ini dan bagi hidupnya yang akan datang.
Alasan pentingnya Formasi Spiritualitas bagi seorang hamba Tuhan, al. 1) Hamba Tuhan adalah manusia yang sedang berada dalam panggilan dan jalur pertumbuhan, sehingga mereka perlu Formasi Spiritualitas. 2) Hamba Tuhan akan mengadakan Formasi Spiritualitas bagi Jemaat yang akan dilayaninya, sehingga penting sekali untuk mempunyai wawasan dan pertumbuhan yang luas serta pengalamannya. 3) Hamba Tuhan berpotensi mengalami problem-problem  kejiwaan (jenuh, putus asa, kesepian) dalam pelayannnya. Sehingga dengan demikian perlu mempunyai kehidupan spiritualitas yang limpah dan segar untuk mengantisipasi problem-problem tersebut. 4) Hamba Tuhan perlu membenahi diri dan membereskan masalah-masalah batiniahnya, sehingga efektif dalam melayani dan berinteraksi dengan orang lain dalam pelayanannya. 5) Hamba Tuhan akan menjadi model bagi orang-orang yang dilayaninya, sehingga ia perlu memiliki karakter dan kepribadian yang baik. Karena itu, penting sekali untuk memiliki karakter diri dan kepribadian kristiani yang benar, yang melaluinya orang lain melihat pribadi Kristus di dalam dirinya.

Source: Road Map GKPI
Kantor Pusat - GKPI
Jl. Kapt Sitorus No. 13
Pematang Siantar, Sumatera Utara
Telp (0622) 22664
Fax (0622) 433625
HP 081370021990
E-mail KANTOR SINODE GKPI
kantorpusat-gkpi@indo.net.id;
gkpi-pms@indo.net.id
E-mail. Web. infokom@gkpi.or.id
E-mail Majalah SUARA GKPI
           suaragkpi@yahoo.com
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia
Kalender Ulang Tahun
Selamat Ulang Tahun kepada:
Jojor Siregar 25 Jun
Husor Sibuea 10 Jul
Asda Siboro 10 Jul
Nurhayati 18 Jul
Gereja Kristen Protestan Indonesia
KANTOR SINODE Lembaga - Non Lembaga -Tugas Belajar - Diperbantukan dll
Koordinator Wilayah Wilayah I (Medan I, Langkat)
Wilayah II (Medan II, Deliserdang) Wilayah III (Simalungun- Tebing Tinggi Sergei)
Wilayah IV (Dairi- Tanah Karo) Wilayah V (Asahan, Labuhan Batu)
Wilayah VI (Silindung, Pahae, Tapsel, Tapteng) Wilayah VII (Humbang, Samosir, Toba)
Wilayah IX (Riau Utara, Riau Selatan) Wilayah VIII (Sumatera Bagian Selatan)
Wilayah X (Kepulauan Riau) Wilayah XI (Jabodetabek, Jawa-Kalimantan)
Video Galleri - GKPI
MARS GKPI
MARS GKPI Cipt. Bonar Gultom
PP GKPI Resort Khusus Kabanjahe
Mamre oh Mamre
GKPI TVRI 2/3
GKPI TVRI 3/3
GKPI TVRI 1/3
Renungan Hari Ini
17 Okt 2016
Dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia. (Mikha 5:4).
16 Okt 2016
Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” (Kejadian 32:28)
Online Support
Administrator Administrator
This text will be replaced by the flash music player.
copyright ©2017 Gereja Kristen Protestan Indonesia
all rights reserved.